Tampilkan postingan dengan label Artifical Intelligence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artifical Intelligence. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2019

Menurut Hasil Survey Penggunaan AI untuk Deteksi Penipuan Meningkat Tiga Kali Lipat pada 2021

Artificial Intelligence atau yang biasa kita kenal dengan nama AI merupakan kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah.
Baru-baru ini sebuah survei mengatakan, penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) untuk mendeteksi penipuan di dunia maya akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2021 secara global.
Hasil survei yang diungkapkan oleh Association Of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyatakan saat ini memang hanya ada 13 persen organisasi yang menggunakan AI dan ML untuk mendeteksi dan mencegah penipuan. Namun, 25 persen lainnya berencana untuk mengadopsi teknologi tersebut dalam satu atau dua tahun mendatang.
"Ketika para penjahat menemukan cara-cara baru untuk mengeksploitasi teknologi untuk melakukan skema dan target korban, para profesional anti-penipuan juga harus mengadopsi teknologi yang lebih maju untuk menghentikan mereka," katanBruce Dorris, Presiden dan CEO ACFE, dalam sebuah pernyataan.
Saat ini, sekitar satu dari empat organisasi (26 persen) menggunakan biometrik sebagai bagian dari program anti-penipuan mereka dan 16 persen lainnya berencana akan menggunakan biometrik pada tahun 2021.
Dilansir dari Times Now, Rabu (26/6), hasil temuan di survei terbaru ini menyebut bahwa lebih dari setengah organisasi (55 persen) berencana untuk meningkatkan teknologi anti-penipuan dalam dua tahun ke depan.
Pada tahun 2021, hampir tiga perempat organisasi (72 persen) diproyeksikan akan menggunakan pemantauan otomatis, pelaporan pengecualian, dan deteksi anomali.
Demikian pula, sekitar setengah dari organisasi mengantisipasi menggunakan analitik/pemodelan prediktif (52 persen dan naik dari 30 persen pada saat ini), dan visualisasi data (47 persen dari saat ini 35 persen).
Survei ini sendiri memeriksa data yang diberikan oleh lebih dari seribu anggota ACFE tentang penggunaan teknologi organisasi mereka untuk melawan penipuan atau kejahatan siber. Para responden survei berasal dari 24 industri secara global. 
ACFE yang berbasis di Texas adalah organisasi anti-penipuan terbesar di dunia dan penyedia utama pelatihan dan pendidikan anti-penipuan. ACFE tersebar di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
ACFE Indonesia kerap menyelenggarakan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian (riset) dan memberikan edukasi pengenalan fraud (fraud awareness) kepada para mahasiswa.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 21 April 2019

Kabar Gembira! Kominfo Buka Pendaftaran Beasiswa Digital Talent Scholarship 2019

Mendapatkan beasiswa pada program studi yang kita sukai memang suatu hal yang sangat membahagiakan, terlebih lagi jika beasiswa itu didapatkan dari pemerintah, pasti gembira bukan?
Bicara soal beasiswa. Kementerian Komunikasi dan Informatika membuka pendaftaran bagi calon penerima 25.000 beasiswa program pendidikan tanpa gelar Digital Talent Scholarship 2019. Beasiswa itu ditujukan untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi informasi dan komunikasi. 
Peserta program akan dilatih secara intensif untuk menguasai hardskill dan softskill sesuai dengan peminatan di bidang teknis Artifical Intelligence, Big Data, Cloud Computing, Cyber Security, Internet of Things, dan Machine Learning serta beberapa tema pelatihan lainnya. 
Sebelumnya,  tahun 2018, Kementerian Kominfo telah meluncurkan program yang sama untuk menyiapkan 1.000 talenta yang menguasai keahlian digital guna mendukung visi Indonesia untuk menjadi negara ekonomi digital terbesar pada tahun 2030. Selain itu,  ProgramDigital Talent Scholarship ditujukan untuk menyediakan talenta yang dibutuhkan dalam Revolusi Industri 4.0.
Pada tahun ini, Program Digital Talent Scholarship 2019 akan memberikan kesempatan kepada 25.000 peserta untuk mengikuti pelatihan yang dikemas dalam empat akademi. 
Beasiswa ini dikelola oleh Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Kominfo berkerja sama dengan 31 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia,  23 Politeknik  dan 4 perusahaan teknologi global antara lain AWS, Cisco, Google dan Microsoft.
Kementerian Kominfo juga menyiapkan kegiatan pascapelatihan bagi peserta program. Targetnya untuk mempertemukan keahlian yang dimiliki oleh talenta digital dengan peluang kerja dan usaha di berbagai perusahaan teknologi.
Masa pendaftaran program dimulai tanggal 20 April 2019 hingga 19 Mei 2019.  Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran silakan akses https://digitalent.kominfo.go.id. Informasi lainnya dapat dilihat melalui Instagram @digitalent.kominfo.


Sumber: Akurat.co