Tampilkan postingan dengan label Sistem Operasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Operasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Agustus 2019

Siap Saingi Android, Huawei Uji Coba Ponsel OS HongMeng

Siapa yang tidak kenal dengan produk-produk dari Huawei? Huawei saat ini memang bisa dikatakan mampu bersaing dengan produk smartphone lainnya, bahkan pada saat ini Huawei juga akan memiliki sistem operasinya sendiri pada ponselnya.
Baru-baru ini, Huawei Technologies dikabarkan tengah menguji coba sebuah ponsel pintar yang menjalankan sistem operasinya sendiri, HongMeng. Perangkat itu pun berpotensi diperjual-belikan pada akhir 2019.
Peluncuran ponsel pintar dengan HongMeng menjadi langkah besar bagi Huawei, sebagai vendor ponsel terbesar kedua di dunia. Karena konflik dagang dengan Amerika Serikat sempat mengancam akses ke OS Android Google.
Global Times melaporkan perangkat itu akan dihargai sekitar 288 dolar AS dan akan mengincar konsumen di segmen pasar ponsel kelas bawah, seperti dilansir dari Reuters, Senin (5/7/2019).
Terkait adanya kabar uji coba hingga penetapan harga, Huawei belum memberikan komentar ataupun mengeluarkan keterangan resminya.
Beberapa waktu lalu, para eksekutif Huawei menggambarkan HongMeng sebagai OS yang memang dirancangnya untuk produk IoT. Bahkan, pihaknya mengatakan perangkat pertama yang akan ditenagai oleh HongMeng adalah jajaran Smart TV sub-merek Honor yang akan datang.
Para pemimpin perempuan asal Tiongkok itu telah secara terang-terangan mengecilkan kemungkinan OS tersebut akan berjalan pada ponsel pintarnya.
Pada acara pengumuman pendapat perusahaan pada semester pertama 2019 pekan lalu, Kepala Huawei, Liang Hua mengatakan pihaknya lebih suka menggunakan OS Android Google untuk perangkat ponselnya. Sementara Hongmeng adalah bagian dari strategi jangka panjang Huawei.


Sumber: Akurat.co

Kamis, 16 Mei 2019

Naiknya Popularitas Linux Di Tahun 2019

Untuk orang 'awam' mungkin hanya mengetahui windows untuk sistem operasi komputer, tanpa mengetahui adanya sistem operasi komputer lain yang bernama Linux.
Kabarnya di bulan Mei ini tahun 2019 yang juga belum berjalan setengahnya, ada beberapa indikasi yang menunjukkan melejitnya popularitas Linux secara umum dan Linux di desktop dari beberapa pengumuman penting para raksasa Silicon Valley terkait Linux. Apa saja argumen yang menunjukkan bahwa 2019 adalah tahunnya Linux?
Melansir Winpoin, Distro Linux tradisional mungkin tidak memiliki jumlah pengguna yang memukau jika dibandingkan dengan OS mainstream dunia: Windows. Akan tetapi Linux akan menjadi sangat penting bagi Windows. Bukan hanya berfungsi sebagai salah satu ‘landasan’ untuk Windows, namun kernel ini juga akan mendapatkan update melalui Windows Update seperti juga normalnya OS tersebut. 
Kernel Linux ini akan digunakan untuk mendukung Windows Subsystem for Linux 2 (WSL 2) dan memungkinkan pengguna menjalankan lebih banyak aplikasi Linux di Windows 10. Meskipun terlihat unik, sebenarnya sejak lama Microsoft memanfaatkan Linux sebagai salah satu pondasi Azure, produk cloud andalan Microsoft.
Chrome OS memang sejak awal berbasis Linux. Secara spesifik, OS ini memiliki basis Gentoo Linux. Meskipun demikian, pengguna tidak dapat serta merta menjalankan aplikasi Linux di laptop produk Google ini. 
Pengguna harus memanfaatkan solusi pihak ketiga seperti Crouton. Namun pada acara Google I/O 2019 kemarin, Google mengumumkan bahwa semua Chromebook mendatang yang akan diproduksi Google akan memiliki dukungan untuk mengakses semua aplikasi Linux secara default. 
Tentu saja hal ini sangat menyenangkan bagi para pengguna Chromebook. Dengan kompatibelnya Chromebook dengan aplikasi Linux, ini juga membuka peluang bahwa Android di masa mendatang mungkin juga akan dapat mengakses Linux secara default. Hal ini juga diangankan oleh pencipta Linux, Linus Torvald pada Desember 2018 yang lalu. 


Sumber: Akurat.co

Minggu, 07 April 2019

Update Windows 10, Pengguna Kembali Bisa Kendalikan Pembaruannya

Pembaruan perangkat lunak biasanya diikuti dengan adanya fitur-fitur tambahan. Setiap kali pembaruan perangkat lunak dirilis, biasanya tergantung pada pengguna untuk memutuskan kapan mereka ingin menginstalnya.
Ini karena kadang-kadang pembaruan tidak selalu sempurna, dan mereka benar-benar bisa berakhir dengan mengacaukannya alih-alih memperbaikinya, seperti halnya dengan pembaruan Windows 10 sebelumnya yang mengakibatkan Microsoft benar-benar mendorong pengguna untuk menghapus instalannya.
Bagi mereka yang bukan penggemar pendekatan agresif Microsoft mengenai pembaruan, Anda mungkin senang mengetahui bahwa dalam pembaruan Windows 10 Mei mendatang, Microsoft akan memberikan pengguna kembali kontrol lebih besar atas bagaimana pembaruan mereka dikelola. Ini berarti bahwa pengguna dapat memilih kapan menginstal pembaruan terbaru ke sistem operasi.
Ini juga berarti bahwa pengguna yang lebih suka tidak menginstal pembaruan terbaru, masih dapat melanjutkan dan menerima pembaruan keamanan bulanan mereka tanpa menambahkan fitur baru ke sistem operasi.
Kabar ini tentu menyenangkan karena Anda memegang kendali penuh atas apa yang dimiliki.


Sumber: Akurat.co