Tampilkan postingan dengan label Kemenpar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemenpar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2019

Jika Wacana Ibukota Pindah Terealisasi, Apa Dampaknya bagi Pariwisata?

Belum lama ini ada wacana tentang pemindahan ibukota Indonesia dari jakarta ke luar Pulau Jawa yang diusulkan oleh Presiden Joko Widodo tengah menjadi perbincangan hangat beberapa waktu belakangan ini.
Oleh sebab itu, pro kontra pun terjadi dari banyak kalangan dan berbagai pihak yang merasa hal tersebut harus kembali dipertimbangkan. Jika pemindahan ibukota benar-benar terealisasi, semua sektor pun akan terkena dampaknya, salah satunya sektor pariwisata.
Lalu apa dampak yang didapat bagi pariwisata? Berikut penuturan Team Leader Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata, Hiramsyah S Thaib, kepada AkuratTravel dalam acara 'Hospitality Indonesia Conference 2019'yang diselenggarakan oleh Escom Events di Le Meredien Hotel Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis, (2/5).
"Kalau dampak positifnya yang pasti itu ikut membantu melakukan percepatan pembangunan daerah baru dan itu memberikan keuntungan pastinya dalam pariwisata. Ada kota yang maju dan jadi daerah wisata baru. Apalagi itu di luar Jawa, pak Jokowi kan concern membangun pembangunan luar Jawa," ungkapnya.
Berbagai pihak pun diyakini akan ikut masuk dan terlibat dalam pembangunan ibukota baru ini, yang membuka peluang kerjasama dalam segi pariwisata semakin terbuka.
"Membangunnya itu juga sudah disampaikan bahwa tidak hanya melibatkan pemerintah, pasti melibatkan akademisi, bisnis semua pemangku kepentingan karena termasuk private sektor," tambahnya.
"Pasti pemerintah akan lakukan dengan cara yang bagus. Nanti akan ada kajian dan program luar biasa. Kita lihatlah nanti, karena baru dua hari lebih (rencana pemindahan ibukota) jadi belum bisa bicara lebih dalam dan banyak," tutupnya.

Sumber: Akurat.co

Kamis, 11 April 2019

Sepanjang 2019 Kemenpar Targetkan 1 Juta Paket Wisata Hot Deals Kepri Terjual

Indonesia dikenal dengan view dari wisatanya yang sangat indah, bahkan bisa dibilang menakjubkan, hampir semua tempat di Indonesia bisa dinikmati, dari mulai Gunung, Hingga Dunia dalam Air-nya.
Paket wisata 'Hot Deals' Kepri ditargetkan terjual hingga sejuta paket sepanjang 2019, upaya untuk menjaring lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) dari kawasan perbatasan semakin optimal.
Pada 2018, paket wisata Hot Deals Kepri tercatat berhasil terjual 700 ribu paket. Tahun ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kembali meluncurkan Hot Deals Kepri 2019 yang diharapkan bisa terjual mencapai sejuta paket.
Program hot deals menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata pada 2019. Untuk itu, pelaku industri pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau diharapkan turut mendukung program tersebut.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya, saat Rapat Sinkronisasi Dukungan Stakeholder Melalui Program Hot Deals di Radisson Hotel, Batam, (11/4) menjelaskan, program border tourism yang paling besar ada di Kepri dengan 32 event untuk menggaet wisman dan anggaran untuk hot deals mencapai Rp26 miliar. Anggaran tersebut tercatat paling besar untuk program crossborder di Indonesia.
"Saya mengajak semua pelaku industri di Batam, Bintan, dan Kepri untuk mendukung program Hot Deals, dengan memberikan potongan harga kepada wisatawan mancanegara, terutama saat musim rendah kunjungan (low season),”kata Arief Yahya, dalam keterangan tertulis yang diterima AkuratTravel, Kamis, (11/4).
Menpar Arief memaparkan programnya di hadapan sekitar 260 pelaku industri pariwisata di Kepri yang hadir. Arief Yahya juga mengajak para pelaku industri untuk memberikan insentif berupa potongan harga. Menurut dia, para pelaku wisata tidak akan merugi karena program itu ditawarkan pada musim rendah kunjungan.
"Hot Deals pada dasarnya menjual paket wisata pada saat 'low season'. Menjual sesuatu yang kurang laku. Misal, hotel di Batam okupansi tinggi saat weekend, saat weekdays, drop. Daripada tidak laku, biaya operasional tetap harus dibayar ’fix cost' tetap jalan, maka weekdays dijual dengan paket hot deals” katanya.
Menpar Arief Yahya menjelaskan, paket hot deals diterapkan dengan konsep sharing economy yaitu menjual barang atau jasa yang tidak laku atau excess capacity dengan memberikan diskon yang besar. Arief Yahya juga mengarahkan program hot deals ke segmen milenial.
Program ini akan mendorong wisman berkunjung atau memancing minat wisman yang bila semula calon wisman tidak ada rencana. Terlebih bila menggarap untuk millennials traveller.
"Sekitar 26 persen dari jumlah wisman ke Kepri adalah milenial. Target itu belum cukup, minimal 50 persen adalah milenial dari jumlah kunjungan. Dengan adanya tawaran diskon besar, mereka terdorong untuk melakukan perjalanan wisata ke Indonesia," ujar Arief.
Arief Yahya mengapresiasi keberhasilan di Kepri pada tahun lalu dalam menjaring wisman, dengan melibatkan komponen pelaku usaha yang bergerak di unsur 3A (aksesibilitas, atraksi, dan amenitas).
Hal itu didukung penyelenggara transportasi (pengusaha fery), akomodasi (hotel dan restoran), dan atraksi (spa, golf, dan atraksi lainnya). Program tersebut dianggap berjalan sukses terjual sebanyak 700 ribu hot deals.
"Kunci sukses uji coba hot deals di Kepri adalah dengan memberikan diskon besar. Untuk tiket fery hingga 60 persen, atraksi hingga 50 persen, dan akomodasi hotel 8 persen. Maka tahun ini harus kita tingkatkan akselerasinya menjadi 1 juta paket,” katanya.


Sumber: Akurat.co