Tampilkan postingan dengan label Boikot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Boikot. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2019

AS Resmi Cabut Boikot Huawei Pasca Penemuan G-20 Di Jepang

Nampaknya polemik Huawei sudah menemui titik terang, pasalnya Pemerintah Amerika Serikat resmi mencabut boikotnya terhadap perusahaan Huawei. Hal tersebut dilakukan usai pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Jepang.
Hal tersebut pun diungkapkan Trump dan akun pribadinya di jejaring sosial Twitter. Kini, perusahaan teknologi AS bisa kembali menjual produknya ke Huawei.
"Atas permintaan perusahaan teknologi besar kami, dan Presiden Xi, saya setuju untuk mengizinkan perusahaan Huawei membeli produk dari mereka yang tidak akan berdampak pada Keamanan Nasional kami," ujar Trump, Minggu (30/6/2019).

I had a great meeting with President Xi of China yesterday, far better than expected. I agreed not to increase the already existing Tariffs that we charge China while we continue to negotiate. China has agreed that, during the negotiation, they will begin purchasing large.....
....amounts of agricultural product from our great Farmers. At the request of our High Tech companies, and President Xi, I agreed to allow Chinese company Huawei to buy product from them which will not impact our National Security. Importantly, we have opened up negotiations...

15.5K people are talking about this
Ia mengakui pertemuan dengan Tiongkok membuat hubungan negara, khususnya mengenai perdagangan jauh lebih baik. Rencana untuk menambahkan tarif untuk produk Tiongkok pun akan dipertimbangkan kembali oleh AS.
Trump menyatakan akan kembali menbuka negosiasi dengan Tiongkok guna membahas lebih rinci masalah perdagangan antar negaranya.
Sebelunya, pemerintah AS telah memasukan Huawei kedalam Daftar Hitam perdagangan negaranya. Akibatnya sejumlah perusahaan teknologi AS dilarang menjalankan bisnis dengan merek Tiongkok tersebut.
Sebagai contoh, perusahaan Google yang tidak lagi memberikan lisensi untuk ponsel Huawei. Sehingga perangkat Tiongkok itu tidak akan bisa lagi menggunakan sistem operasi Android.

Sumber: Akurat.co

Senin, 24 Juni 2019

Dampak Dari Pemboikotan Huawaei, FedEx Tolak Pengiriman Paket Ponsel Huawei Ke Amerika Serikat

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Amerika Serikat serta beberapa perusahaan teknologi skala besar memboikot Huawei beserta produknya, boikot dari Amerika Serikat tersebut rupanya berdampak serius pada penjualan produk Huawei itu sendiri.
Sanksi perdagangan Amerika Serikat terhadap perusahaan Tiongkok berdampak luas di berbagai sektor. Selain dari penjualan produk, kini Perusahaan jasa pengiriman FedEx dikabarkan menolak untuk mengirimkan produk ponsel Huawei.
Dilansir dari The Verge, Minggu (23/6), majalah gadget ternama PC Magazine mencoba mengirimkan paket berisi ponsel Huawei P30 dari kantornya yang berbasis di London ke Amerika Serikat.
Namun paket tersebut dikembalikan beberapa hari kemudian dengan alasan adanya larangan pengiriman dari pemerintah AS.
Menurut laporan, pihak jasa pengiriman mengidentifikasi nomor IMEI dari ponsel tersebut dan mengetahui bahwa paket tersebut berisi perangkat Huawei.
Pihak PC Magazine mengungkapkan ponsel yang dikirimkan itu bukan untuk didagangkan, tetapi untuk kebutuhan kantor majalah yang bertempat di New York.
Huawei pun segera menanggapi kabar tersebut. Pihaknya mengungkapkan bahwa FedEx telah salah menafsirkan keputusan pemerintah dan juga daftar hitam Amerika Serikat.
Jenama asal Tiongkok itu mengatakan tidak ada alasan hukum bagi FedEx untuk tidak mengirimkan paket ponsel Huawei.
Terkait hal itu, FedEx merilis klarifikasi yang menyebut bahwa perusahaannya telah melakukan kesalahan.
"Paket tersebut keliru dikembalikan ke pengirim, dan kami mohon maaf atas kesalahan operasional ini," ungkap juru bicara FedEx.
FedEx mengklaim sebagai perusahaan global pihaknya hanya berupaya mematuhi semua aturan dan regulasi sekaligus meminimalkan dampak terhadap pelanggan, ketika perusahaan menyesuaikan peraturan di wilayah AS.
Kini perusahaan pengiriman tersebut telah menyatakan dapat menerima dan mengangkut semua produk Huawei.


Sumber: Akurat.co

Senin, 17 Juni 2019

Huawei Mengakui Dampak Dari Pemboikotan Mempengaruhi Penurunan Pendapatan

Seperti yang sudah diketahui bahwa Huawei mendapat pemboikotan dari Pemerintah Amerika Serikat dan beberapa perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, ternyata hal ini berdampak juga pada pendapatan dari Huawei itu sendiri.
Hal ini juga diakui oleh pendiri sekaligus CEO Huawei Technologies Ren Zhengfei, yang mengakui bahwa meremehkan sanksi perdagangan Amerika Serikat berdampak pada penurunan pendapat perusahaannya. Melansir Reuters, Senin (17/6), Zhengfei memprediksi pendapat Huawei akan turun hingga 100 miliar dolar AS pada 2019 dan 2020.
Hal ini pun diklaim menjadi kali pertama Huawei memperhitungkan dampak dari tindakan AS terhadap perusahaannya. Pihaknya tidak menyangka bahwa upaya AS untuk menghancurkan Huawei sangat kuat dan menjalar kemana-mana, kata Zhengfei, Senin (17/6).
Selain itu, ia mengungkapkan, pengiriman ponsel Huawei secara global akan turun 40 persen. Namun Zhengfei tidak menyebut jangka waktu penurunan tersebut.
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa perusahaan Tiongkok itu sedang mempersiapkan langkah untuk mengurangi pengiriman ponselnya secara global 40 hingga 60 persen. Sebagai gantinya, Huawei akan berupaya menguasai setengah pasar ponsel pintar di Tiongkok.
Saat ini, Ren mengungkapkan bahwa Huawei tidak mendapat pasokan komponen, tidak bisa berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional dan bekerja sama dengan universitas.
Huawei juga tidak bisa menggunakan komponen dan membangun jaringan bisnis dengan perusahaan AS. Kendati demikian, Ren meyakini dan berharap bisnis perusahaannya akan bisa bangkit kembali pada dua tahun mendatang.
Bahkan, ia menegaskan, tidak akan memangkas biaya untuk penelitian dan pengembangan serta tidak akan melakukan mem-PHK karyawan besar-besar.

Sumber: Akurat.co

Pemasok Chop Asal Amerika Serikat Diam-diam Lobi Pemerintah Untuk Meringankan Larangan Terhadap Huawei

Selepas pemboikotan terhadap Huawei yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat beserta beberapa perusahaan besar teknologi asal Amerika Serikat, ternyata diam-diam pemasok chip asal Amerika Serikat, termasuk Qualcomm dan Intel melobi pemerintahnya untuk meringankan larangan penjualan untuk Huawei.
Eksekutif Intel dan Xilinx Inc telah melakukan pertemuan dengan Departemen perdagangan AS pada akhir Mei lalu untuk memberikan tanggapan terkait penempatan Huawei dalam daftar hitam.
Selain kedua perusahaan itu, Qualcomm juga telah mendesak Departemen Perdagangan atas permasalahan larangan perusahaan AS untuk memasok perangkat ke perusahaan Tiongkok dengan alasan keamanan nasional.
Para pemasok chip berpendapat bahwa unit yang dijual Huawei seperti ponsel pintar atau server komputer, menggunakan suku cadang yang umum tersedia.
Sehingga tidak mungkin menghadirkan masalah keamanan yang sama dengan perangkat jaringan 5G perusahaan Tiongkok.
“Ini bukan tentang membantu Huawei. Ini tentang mencegah kehancuran (bisnis) perusahaan Amerika," ujar salah seorang narasumber, seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/6/2019).
Dari 70 miliar dolar AS yang dihabiskan Huawei untuk membeli komponen pada 2018, sekitar 11 miliar dolar-nya jatuh ke perusahaan AS, termasuk Qualcomm, Intel dan Micron Technology.
Salah seorang narasumber mencontohkan, Qualcomm yang ingin melanjutkan pengiriman chip ke Huawei untuk perangkat umum seperti ponsel dan jangan tangan pintar.
kelompok perdagangan bernama Asosiasi Industri Semikonduktor (SIA), mengakui pihaknya telah mengatur konsultasi dengan pemerintah AS dan memberikan pengarahan singkat kepada pejabat tentang dampak larangan terhadap perusahaan.
Wakil Presiden Kebijakan Global SIA, Jimmy Goodrich mengatakan teknologi yang tidak terkait dengan keamanan nasional tidak boleh berada dalam cakupan ordo.
"Dan kami telah menyampaikan perspektif ini kepada pemerintah," tegasnya.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 16 Juni 2019

Akibat Pemboikotan Huawei Di Amerika Serikat, Huawei Akan Pertimbangkan Menggunakan Sailfish OS

Seperti yang sudah diketahui bahwa Huawei memang sedang mengalami masalah dengan Pemerintah dan beberapa perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.
Karena masalah hukum yang sedang berlangsung dialami Huawei di Amerika Serikat, perusahaan kemungkinan besar perlu mulai menemukan sistem operasi alternatif untuk smartphone-nya. Dan dikabarkan desas-desus bahwa perusahaan dapat bekerja pada OS mereka sendiri. Tetapi menurut laporan baru, tampaknya perusahaan dapat benar-benar beralih ke penggunaan OS yang berbeda.
Dilansir dari laman Ubergizmo, tampaknya Huawei benar-benar dapat mempertimbangkan menggunakan OS Sailfishdaripada sistem operasinya sendiri. Tidak jelas mengapa Huawei mungkin menggunakan Sailfish alih-alih platformnya sendiri, tetapi ada kemungkinan bahwa itu bisa karena sudah sepenuhnya dikembangkan. Namun masih belum diketahui seberapa jauh sistem operasi Huawei sendiri.
Laporan itu menunjukkan bahwa itu mungkin bukan OS Sailfish penuh, tetapi yang disebut Aurora OS. CEO Huawei Guo Ping sebelumnya telah membahas kemungkinan itu, yang telah menyebabkan spekulasi ini.
Bagi mereka yang tidak terbiasa, Sailfish OS diluncurkan beberapa tahun yang lalu. Itu adalah evolusi platform MeeGo yang dikembangkan bersama oleh Nokia dan Intel pada masa itu.
Itu dimaksudkan untuk menyediakan pengguna dengan platform alternatif untuk Android, dengan salah satu nilai jualnya adalah bahwa ia memiliki beberapa kompatibilitas dengan aplikasi Android, sehingga memudahkan pengembang. Platform ini masih sangat hidup dan baik, meskipun diakui itu tidak digunakan secara luas seperti yang diharapkan penciptanya.
Huawei memang menguasai pangsa pasar yang signifikan sejauh menyangkut smartphone, dan jika mereka menggunakan Sailfish, atau versi bercabang, itu bisa membantu platform tumbuh dalam cara yang sangat besar.

Sumber: Akurat.co

Selasa, 11 Juni 2019

Pemboikotan Terhadap Huawei Semakin Luas, Kali Ini Perusahaan Asal Jepang Yang Ikut Memboikot Huawei

Pemboikotan terhadap Huawei tampaknya semakin melebar, sebelumnya Huawei diboikot oleh beberapa perushaan besar teknologi Amerika Serikat dan juga Pemerintah Amerika Serikat, kali ini Perusahaan teknologi asal Tiongkok itu di boikot oleh salah satu perusahaan asal Jepang.
Perusahaan pembuat chip dan pemasok peralatan semi konduktor asal Jepang, Tokyo Electron menyatakan bakal menghormati Amerika Serikat tentang daftar hitam perusahaan-perusahaan Cina. Produsen chip nomor 3 di dunia itu tidak akan memasok produknya ke klien asal Cina yang masuk daftar hitam AS.
"Sangat penting bagi kami bahwa pemerintah dan industri AS melihat kami sebagai perusahaan yang adil," kata salah seorang eksekutif senior Tokyo Electron yang tidak mau disebutkan namanya mengingat sensitivitas masalah ini, melansir Reuters, Selasa (11/6).
Hal itu mengingat kemitraan panjang Tokyo Electron dengan AS yang telah dimulai sejak 1960-an sebagai importir peralatan. Pemasok peralatan chip asal Jepang lainnya juga mempertimbangkan untuk menghentikan pengiriman ke perusahaan Cina yang masuk daftar hitam.
Eksekutif yang juga tidak mau disebutkan namanya menyatakan pihaknya intens berkomunikasi dengan kementerian industri Jepang. Ia mengaku belum menerima instruksi khusus dari kementerian.
"Kami menyadari bahwa kami dapat berada dalam masalah besar jika kami mengambil keuntungan dari larangan ekspor AS untuk memperluas bisnis dengan Cina," tandasnya.
Seperti diketahui, Washington berupaya melarang penjualan teknologi ke perusahaan-perusahaan Cina, termasuk Huawei Technologies. Cina yang terkunci dalam perang dagang dengan AS lantas sedang mendorong untuk membangun industri semi konduktornya untuk mengurangi ketergantungan mesin pembuat chip pada pemasok AS, Jepang, dan Eropa.


Sumber: Akurat.co

Senin, 20 Mei 2019

Diboikot Google Dan Beberapa Perusahaan Besar, Begini Tanggapan Huawei

Google dan beberapa perusahaan besar telah melakukan aksi boikot terhadap Huawei.
Hal ini pun langsung direspon oleh raksasa manufaktur Cina, Huawei, yang menanggapi laporan bahwa Google telah menangguhkan dukungan untuk semua sokongan bisnis Huawei. Perusahaan asal Cina tersebut mengatakan bahwa selama ini sistem operasi Android bersifat open source. Huawei telah menjadi peserta penting dalam pengembangan dan pertumbuhan Android. Huawei juga memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan dan menggunakan ekosistem Android.
Namun, Huawei memberi garansi bagi konsumennya. Produk dari Huawei dan Honor, termasuk smartphone dan tablet yang ada di pasar Cina tidak akan terpengaruh. Sehingga, konsumen dapat menggunakan dan membeli dengan percaya diri.
Meski perangkat Huawei tidak akan menerima pembaruan dari fitur eksklusif Google seperti Google Play Store, Gmail, dan lain-lainnya, CEO Huawei mengakui bahwa pertumbuhan perusahaan mungkin akan melambat sekitar 20% sebagai akibat dari larangan AS tetapi ini hanya bersifat sementara dan akan pasti bangkit kembali.

Berikut ini teks lengkap dari pernyataan Huawei:

“Sebagai sistem operasi smartphone, Android selalu bersifat open source. Sebagai peserta penting, Huawei telah memberikan kontribusi yang sangat penting bagi pengembangan dan pertumbuhan Android. Huawei memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan dan menggunakan ekosistem Android. Produk merek Huawei dan Honor, termasuk smartphone dan tablet, produk dan layanan tidak terpengaruh di pasar Cina, sehingga konsumen dapat menggunakan dan membeli dengan percaya diri. Di masa depan, Huawei akan terus membangun lingkungan pengembangan yang aman dan berkelanjutan untuk seluruh adegan, memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna... Kami telah memberikan kontribusi yang substansial untuk pengembangan dan pertumbuhan Android di seluruh dunia. Sebagai salah satu mitra global utama Android, kami telah bekerja erat dengan platform open-source mereka untuk mengembangkan ekosistem yang bermanfaat bagi pengguna dan industri. Untuk memberikan pembaruan keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei dan Honor yang ada, yang mencakup yang telah dijual dan yang masih tersedia secara global. Kami akan terus membangun ekosistem perangkat lunak yang aman dan berkelanjutan, untuk memberikan pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global," tulis Huawei sebagaimana dilansir GizChina.

Sumber: Akurat.co