Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2019

Setelah HongMeng, Huawei Daftarkan OS Terbarunya yang Bernama 'Harmony'

Pemberitaan mengenai Huawei memang tak pernah habis dibidang teknologi ini, pasalnya beberapa waktu lalu Huawei sempat berselisih dengan perusahaan teknologi Amerika Serikat dan Pemerintah Amerika Serikat, selain pemberitaan mengenai perseteruannya, Pemberitaan mengenai OS yang dibuat oleh Huawei tak bisa dilewatkan.
Setelah memproduksi Hongmeng OS beberapa waktu lalu, kini, Huawei kembali akan mendaftarkan OS terbaru mereka bernama Harmony.
Melansir Letsgodigital pada Senin (15/7), Huawei Tecnologies dikabarkan telah mendaftarkan Harmony OS pada 12 Juli lalu di EUIPO (Kantor Kekayaan Intelektual Uni Eropa), Spanyol.
Pihak Huawei mengatakan, aplikasi ini dikategorikan pada 'kelas 9', di mana nantinya Harmony OS bisa digunakan oleh perangkat mobile dan komputer yang dapat download.
Namun hingga saat ini, pihak Huawei belum menjelaskan kapan aplikasi ini akan dirilis dan di negara mana saja yang akan diluncurkan.

Sumber: Akurat.co

Jumat, 12 Juli 2019

Kritikan Trump Terhadap China di Twitter, Apakah Kembali Memanas?

Baru beberapa waktu lalu, hubungan antara Amerika Serikat dan China sempat membaik, hal ini dikarenakan pencabutan pemboikotan dari Pemerintah Amerika Serikat terhadap Huawei.
Tapi pada Kamis malam waktu AS (11/7/2019) Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengkritik China karena negara itu tidak membeli produk pertanian Washington dalam jumlah banyak.
"Meksiko telah bertindak baik terhadap masalah perbatasan. Namun, China membiarkan kami kecewa karena ia tidak membeli produk pertanian AS. Saya berharap China segera memperbaiki diri," tweet Trump, dilansir dari Bloomberg, Jumat (12/7/2019).
Data yang dirilis Departemen Pertanian AS pada Kamis (11/7/2019), menunjukkan, China justru memperlambat pembelian produk pertanian AS setelah pertemuan G20.

China membeli 127.800 metrik ton kedelai AS pekan lalu, setara dengan sekitar dua kargo dan selisih sebesar 79 persen dari pekan sebelumnya. China juga hanya membeli 76 ton daging babi Amerika, dibandingkan dengan 10.400 ton pada Juni.
Padahal, menurut Trump, China telah berjanji untuk membeli dalam jumlah banyak pada pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping di sela-sela KTT G20, Jepang, 29 Juni 2019 lalu. Hal ini menjadi imbalan atas dilanjutkannya kembali perundingan kedua negara.


Sumber: Akurat.co

Rabu, 10 Juli 2019

Sudah Menemui Titik Terang, Huawei dapat Beroperasi Kembali di AS

Huawei dan Pemerintah AS nampaknya sudah menemui titik terang, pasalnya Pemerintah Amerika Serikat akan mengeluarkan lisensi keamanan untuk setiap perusahaannya yang ingin menjual barang ke perusahaan Telekomunikasi Raksasa asal Cina, Huawei. Dengan begitu, dapat dikatakan Huawei sudah bisa beroperasi kembali di AS.
Seperti dilansir dari Reuters pada Rabu (9/7), Hal tersebut dilakukan guna membangun kembali pembicaraan mengenai pasar dagang antara AS dengan Cina.
Belum lama ini, Presiden Trump mengumumkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika akan diizinkan untuk menjual produknya ke Huawei dan kegiatan tersebut tidak akan mendapatkan ancaman dari pemerintah AS.
Sebelumnya, Huawei masuk dalam daftar hitam produk yang dilarang produksinya di Amerika karena dianggap tidak memiliki lisensi khusus. Sempat diberhentikan beroperasi oleh pemerintah AS.
Pengamat ekonomi Gedung Putih AS, Larry Kudlow, pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh CNBC mengatakan, pemberian lisensi dari Pemerintah AS kepada Huawei  dapat membantu produksi Huawei. Sayangnya, sifatnya terbatas.
Kudlow menjelaskan, akan ada beberapa komponen atau suku cadang yang tetap dilarang dalam transaksi di antara keduanya, salah satunya segala bentuk transaksi apapun yang berkaitan dengan jaringan 5G.
Itu berarti tetap adanya pembatasan perizinan dalam hal penjualan barang ke Huawei. Barang-barang tersebut yang umumnya tersedia di pasar global termasuk vendor dari Taiwan, Korea Selatan dan Vietnam.

Sumber: Akurat.co

Senin, 24 Juni 2019

Bukan Hanya Huawei, Kini AS Menambahkan 5 Perusahaan Asal Tiongkok Kedalam "Black List"

Pemerintah Amerika Serikat (AS) rupanya tidak hanya memasukan satu nama perusahaan teknologi asal Tiongkok saja dalam daftar hitamnya.
Setelah Huawei, kini pemerintah Amerika Serikat (AS) menambahkan empat perusahaan dan satu lembaga Tiongkok ke dalam daftar hitam perdagangannya.
Keputusan tersebut diambil jelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Tiongkok Xi Jinping pada perhelatan KTT G20 28-29 Juni di Jepang.
Dalam acara tersebut dua pemimpin negara itu diklaim akan membahas masalah perdagangan antar keduanya guna mengurangi perselisihan.
Departemen Perdagangan AS mengungkapkan telah menambahkan Sugon, Higon, Sirkuit Terpadu Chengdu Haiguang dan Teknologi Mikroelektronika Haiguang Chengdu serta Institut Teknologi Komputasi Wuxi Jiangnan ke dalam daftar entitas, menurut laporan Reuters, dikutip Senin (24/6/2019).
Perusahaan dan lembaga yang baru masuk ke daftar hitam diklaim miliki lembaga penelitian militer Tiongkok dan terlibat dalam misi superkomputer dengan aplikasi militer.
Adapun, superkomputer adalah pengembangan teknologi generasi terbaru dari kecerdasan buatan dan sistem komputasi tertinggi. Hal itu dinilai akan membantu modernisasi di bidang militer.
Penambahan perusahaan Tiongkok ke dalam hitam, khususnya yang terkait pengembangan teknologi militer, bukan pertama kali dilakukan AS.
Pada 2015 lalu, AS sempat memasukan University of Technology Tiongkok ke dalam daftar entitasnya.
Terkait laporan tersebut, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan keterangan resminya.

Sumber: Akurat.co

Selasa, 11 Juni 2019

Semakin "Runyam", Pemerintah Tiongkok Bela Huawei Dan Peringatkan Samsung, Dell Hingga Microsoft

Nampaknya permasalahan Huawei terhadap beberapa perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan Pemerintah Amerika itu sendiri semakin memburuk dan memanas setelah Pemerintah Tiongkok ikut angkat bicara terkait kasus tersebut.
Pemerintah Tiongkok juga memperingatkan kepada sejumlah perusahaan teknologi di antaranya MicrosoftDell dan Samsung dari Korea Selatan agar tidak mengikuti aturan yang diberlakukan Amerika Serikat.
Dilansir dari The New York Times, Senin (10/6/2019), raksasa teknologi tersebut diklaim akan menghadapi konsekuensi jika menuruti larangan Donald Trump untuk menjual perangkat teknologi ke perusahaan Tiongkok.
Aturan tersebut diberlakukan setelah Huawei dituduh melakukan mata-mata dan melakukan pencurian rahasia dagang demi kepentingan Beijing.
Peringatan itu disampaikan pemerintah Tiongkok pada sebuah pertemuan yang digelar pekan lalu dan dihadiri sejumlah perusahaan teknologi seperti DellMicrosoft, Arm, Dave Farmer, Samsung dan SK Hynix.
Kendati demikian juru bicara dan perwakilan perusahaan yang hadir menolak memberikan ketarangan pendapatnya terkait peringatan Tiongkok. Sementara Samsung dan SK Hynix tidak merespon permintaan berkomentar.
Pertemuan tersebut dilangsungkan pasca pemerintah Tiongkok mengumumkan daftar perusahaan dan individu 'yang tak bisa diandalkan' sebagai balasan atas sikap AS terhadap Huawei.
Pemerintah AS telah memasukan merek Tiongkok tersebut ke dalam daftar hitam perdagangan. Akibatnya, perusahaan ternama seperti Google, Intel dan Qualcomm memutuskan hubungan bisnis dengan Huawei.
Bahkan beberapa waktu lalu perusahaan media sosial Facebook tidak lagi menghadirkan aplikasi jejaring sosialnya untuk perangkat Huawei.


Sumber: Akurat.co

Selasa, 28 Mei 2019

Semakin Memanas, Huawei Tuduh FedEx Alihkan Dokumen ke Amerika Serikat

Memanasnya perselisihan antara Amerika Serikat beserta perusahaan-perusahaan teknologi disana, membuat Huawei menuduh FedEx yang telah mengalihkan dua paket yang ditujukan untuk Cina, dan mencoba mengalihkan rute dua paket lain yang dikirim dari Vietnam ke kantor-kantor Asia lainnya.
Dilaporkan bahwa kedua paket tersebut dialihkan ke AS, ujar Huawei kepada Reuters. Paket yang dialihkan tersebut bukan berisi teknologi melainkan hanya dokumen komersial.
Raksasa teknologi ini melangkah lebih jauh dengan menyediakan gambar catatan pelacakan, meskipun tidak menawarkan alasan mengapa paket-paket itu salah arah.
Seorang juru bicara Huawei mengatakan dugaan pengalihan untuk merusak kepercayaan, dan bahwa perusahaan harus meninjau persyaratan logistik sebagai hasilnya. Mereka pun sudah mengajukan keluhan dengan regulator pos China.
Menanggapi hal itu, seorang juru bicara FedEx mengatakan paket-paket itu dialihkan karena kesalahan dan membantah bahwa pemerintah AS atau siapa pun telah meminta untuk mengirimnya ke tempat lain.
Atas hal ini, nampaknya ini menambah kemarahan Huawei atas larangan perdagangan AS. Seperti yang diketahui banyak mitra AS yang memotong akses, antara lain Google dan Intel.

Sumber: Akurat.co

Senin, 20 Mei 2019

Setelah Google, Kini Intel Corp dan Qualcomm Inc Ikut Boikot Huawei

Perseteruan Huawei dengan beberapa perusahaan teknologi semakin memanas dan membesar, sejumlah perusahaan top pembuat chip asal Amerika Serikat (AS) telah bersama-sama 'memboikot' raksasa teknologi Cina, Huawei Technologies Co. Mereka di antaranya Intel Corp, Qualcomm Inc, Xilinx Inc dan Broadcom Inc.
Dilansir dari Bloomberg, Senin (20/5), para pembuat chip telah membekukan pasokan perangkat lunak penting dan komponen lain. Hal ini untuk mematuhi tindakan keras administrasi Presiden Trump yang mengancam untuk mencekik Huawei.
Sumber anonim mengatakan bahwa para perusahaan tidak akan memasok perangkat ke Huawei sampai pemberitahuan lebih lanjut. Langkah yang diambil para perusahaan asal AS itu lantas melumpuhkan Huawei sebagai penyedia peralatan jaringan terbesar dan vendor ponsel cerdas nomor 2 di dunia.
Jika tindakan administrasi Presiden Trump diterapkan sepenuhnya, hal itu tentu dapat menimbulkan efek riak di industri semikonduktor global. Intel sendiri adalah pemasok utama chip server ke perusahaan Cina.
Begitupun Qualcomm yang menyediakan prosesor dan modem untuk banyak smartphone-nya. Xilinx menjual chip yang dapat diprogram untuk digunakan dalam jaringan dan Broadcom adalah pemasok chip switching, komponen kunci lain dalam beberapa jenis jaringan mesin.
"Huawei sangat tergantung pada produk semikonduktor AS dan akan lumpuh serius tanpa pasokan komponen utama," kata Analis Rosenblatt Securities Inc. Ryan Koontz.
"Larangan AS dapat menyebabkan Cina menunda pembangunan jaringan 5G," tambahnya.
Hingga kini, perwakilan pembuat chip menolak memberikan komentar. Sebelumnya, Google Alphabet Inc memutus pasokan perangkat keras dan beberapa layanan perangkat lunak kepada Huawei.
Untuk diketahui, Presiden Trump memasukkan Huawei ke daftar hitam lantaran diduga membantu Beijing dalam aksi spionase. Trump lalu mengancam akan memutus pasokan perangkat lunak dan semikonduktor asal AS yang diperlukan untuk membuat produk-produknya.


Sumber: Akurat.co

Kamis, 16 Mei 2019

Cina Blokir Wikipedia Tanpa Adanya Alasan Yang Jelas

Kita sering menggunakan Wikipedia untuk mencari sumber-sumber informasi, tapi apa jadinya jika situs yang banyak manfaatnya ini diblokir oleh pemerintah.
Nah, belum lama ini Pemerintah Cina yang memang dikenal sering menyensor situs-situs tertentu juga memblokir Wikipedia pada april 2019 lalu.
"Pada akhir April 2019, Wikimedia Foundation menyetujui Wikipedia tidak lagi dapat diakses di Tiongkok,” jelas Samantha Lien, Manajer Komunikasi untuk Wikipedia Foundation.
Sayang, tidak ada penjelasan kenapa Cina membatalkan Wikipedia. Pada Mei 2017 lalu, Cina menyetujui rencana untuk membuat ensiklopedia online sendiri dengan lebih dari 300 ribu artikel dari 20.000 sarjana.
Melansir Telset, sebelumnya Cina hanya melewatkan Wikipedia versi bahasa Cina. Sekarang, keputusan berubah seiring Cina memiliki situs yang mirip dengan The Encyclopaedia of China.
Informasi menyebut situs tersebut fokus pada pengetahuan, budaya, sejarah, hingga pembahasan teknologi yang telah dilakukan di Negeri Tirai Bambu. Situs itu pun mulai dioperasikan pada 2018 lalu.
Sebenarnya tak hanya Cina yang menolak Wikipedia. Selain Cina, Turki, dan Venezuela juga melakukan hal serupa.Secara berurutan, mereka memberlakukan pemblokiran terhadap Wikipedia pada 2017 dan 2018.
Jauh sebelumnya atau pada 2014, Rusia mengumumkan versi lain dari Wikipedia.Maksud hati, Rusia ingin memberi informasi yang lebih baik tentang berbagai hal kepada masyarakat, khusus yang ada di dalam negeri. 

Sumber: Akurat.co

Minggu, 05 Mei 2019

Realme X Segera Rilis, Redmi Terancam?

Sekarang produsen smartphone saling berlomba-lomba untuk merilis smartphone terbaru mereka dengan fitur-fitur canggih yang mereka kembangkan, salah satunya yang akan merilis smartphone terbarunya adalah Realme.
Realme X dikabarkan akan rilis pertama kali di Cina pada 15 Mei mendatang. Realme X juga dipastikan akan diluncurkan di India pada bulan yang sama. Sayangnya, Realme belum membuat pengumuman resmi mengenai acara peluncuran tersebut. Tapi, beberapa jam lalu akun Weibo resmi Realme membuat kejutan.
Lewat Weibo, Realme menyebut bahwa tanggal peluncuran handset baru itu dilangsungkan besok. Perubahan jadwal itu, usut punya usut, sebagai upaya rivalitas dan curi start dari pesaing beratnya, Redmi. Salah satu produk besutan Xiaomi itu kabarnya akan merilis perangkat baru pada bulan ini.

Masih belum ada informasi pasti terkait 'jeroan' dari Realme X. Ponsel seri X pertama dari Realme itu sejatinya memiliki dua versi. Varian dial-down dengan Snapdragon 730 SoC dan model Snapdragon 855 premium.
Realme X merupakan flagship pertama dari anak perusahaan OPPO yang baru berusia satu tahun. Realme juga akan mengumumkan Realme 3 Pro di Cina bersama flagship. Tanggal peluncuran India belum diketahui tetapi kami berharap itu terjadi segera setelah debut handset di Cina.


Sumber: Akurat.co

Sabtu, 04 Mei 2019

Unik! Kolam Air Panas di Tiongkok Bisa Berubah Warna Tiap Musim

Kita mengenal Tiongkok dengan dengan kehidupan perkotaannya yang ramai dan sangat padat. Di pusat kota Tiongkok, banyak sekali bangunan tinggi menjulang dan pada saat malam hari diwarnai dengan lampu-lampu gemerlap. Tapi di samping itu, Tiongkok juga mempunyai alam yang sangat indah.
Seperti di Lembah Huanglong yang dipenuhi dengan sumber air panas. Kolam yang dijuluki sebagai Peri Tanah Bumi itu diketahui dapat berubah warna setiap musim.
AkuratTravel melansir dari Insider, Jumat, (3/5), terletak di pusat China, utara Chengdu, kolam-kolam tercipta karena ada endapan mineral dan lokasinya berliku-liku di antara pegunungan terjal atau disebut sebagai Naga Kuning.
Bahkan, kolam panas ini termasuk ke dalam salah satu Cagar Alam Huanglong yang terletak di Taman Nasional Huanglong dan merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO.
Cagar alam ini adalah rumah bagi sekumpulan hewan-hewan yang dilindungi. Ada kera hidung emas, monyet raksasa yang tinggal di hutan sekitaran kolam dan bahkan dipercaya ada makhluk langka yang tinggal di kawasan cagar alam tersebut.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kolam atau lembah Huanglong ini dikenakan biaya seharga $25 atau sekitar Rp356 ribu per orang selama musim tumbuh tanamanan di bulan April hingga November. Sementara pada musim tidak tumbuh tanaman dikenakan biaya $9 atau sekitar Rp128 ribu.


Sumber: Akurat.co

Senin, 29 April 2019

Google Sudah Blokir 6 Aplikasi dari Cina

Google memang dikenal selektif dan selalu mensortir aplikasi-aplikasi yang ada di Google playstore.
Google juga tak segan untuk memblokir aplikasi-aplikasi yang sekiranya bisa disalah gunakan.
Baru-baru ini Google memblokir pengembang Cina populer di Google Play Store, dan secara sistematis menghapus puluhan aplikasinya setelah BuzzFeed dan peneliti keamanan menemukan bahwa pengembang itu melakukan penipuan iklan dan menyalahgunakan izin pengguna.
DO Global, yang sebagian dimiliki Baidu, ditemukan telah memproduksi klik iklan palsu untuk mendapatkan penghasilan, di antara praktik penipuan lainnya.
Dilansir dari The Verge, Sabtu (27/4) bahwa Google mengatakan pemblokiran itu sebagai tanggung jawabnya untuk melindungi pengguna dan pengiklan. Google sudah berinvestasi dalam alat dan sumber daya untuk memerangi penipuan dan penyalahgunaan global.
"Kami secara aktif menyelidiki perilaku jahat, dan ketika kami menemukan pelanggaran, kami mengambil tindakan, termasuk penghapusan kemampuan pengembang untuk memonetisasi aplikasi mereka dengan AdMob atau menerbitkan di Play," kata Google dalam sebuah pernyataan.
Setidaknya enam aplikasi ditemukan oleh para peneliti berisi kode untuk mengklik iklan palsu yang berjalan di latar belakang, bahkan ketika pengguna tetap menutup aplikasi.
DO Global sebelumnya memiliki sekitar 100 aplikasi di PlayStore yang banyak di antaranya terdaftar di bawah nama pengembang lain, seperti Pic Tools Group. BuzzFeed melaporkan bahwa 46 aplikasi di antaranya sudah dihapus dari PlayStore oleh Google.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 21 April 2019

Resmi! Redmi 7 'Melenggang' Di Indonesia Pekan Depan

Siapa yang menunggu-nunggu hadirnya produk baru dari Xiaomi?
Yap, Xiaomi telah resmi mengumumkan akan merilis ponsel barunya, Redmi 7. Berdasarkan undangan yang dikirim oleh pihak Xiaomi Indonesia, ponsel tersebut akan rilis pada 23 April 2019.
Sebelumnya, Redmi 7 elah mengantongi sertifikasi TKDN sejak awal Maret lalu dengan nilai 30,3%.
Untuk spesifikasinya, Redmi 7 mengusung layar berukuran 6,26 inci beresolusi 1520 x 720 piksel dengan desain poni tetes air.
Redmi 7 mengusung chipset prosesor Qualcomm Snapdragon 632 dengan tiga opsi kombinasi RAM dan ruang penyimpanan internal yaitu 4GB/64GB, 3GB/32GB atau 2GB/16GB.
Sedangkan sistem operasinya menggunakan MIUI 10 yang basisnya dari Android Pie 9.0.
Xiaomi juga menyematkan dua kamera belakang yang masing-masing berukuran 12MP dan 2MP. Sedangkan untuk selfie, Redmi 7 punya kamera depan berukuran 8MP.
Soal harga, akan diumumkan pada hari peluncuran tiba. Namun, ponsel ini sudah rilis di Cina  yang dibanderol 699 Yuan atau sekitar 1,5 juta untuk versi 2GB/16GB. Kemudian untuk versi 3GB/32GB dihargai 799 Yuan atau Rp 1,7 juta dan varian 4GB/64GB dengan harga 999 Yuan, sekitar Rp 2,1 juta.


Sumber: Akurat.co

Minggu, 07 April 2019

Profesi Baru Di Era Digital Dalam Bidang Teknologi

Era digital, eranya teknologi, perkembangan zaman ini sangat memungkinkan untuk adanya profesi-profesi baru.
Hal tersebut dibuktikan oleh Kementerian Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Sosial China (MHRSS) yang telah mengeluarkan 13 daftar profesi baru di bidang teknologi. Profesi tersebut di antaranya untuk perkembangan kecerdasan buatan (AI), internet untuk segalanya (IoT), mahadata, komputansi awan, ketangkasan elektrik, kendaraan nirawak, manajemen pertanian, dan pengoperasian sistem robot industri.
Penggunaan AI, IOT, mahadata, komputansi awan, dan teknisinya sangat dibutuhkan di semua bidang.  Setelah robot-robot industri menggantikan peran tenaga manusia di beberapa pabrik di China, profesi di bidang pengoperasian dan pemeliharaan robot-robot tersebut makin menarik.
Permintaan akan operator kendaraan nirawak juga sangat tinggi seiring dengan peningkatan penggunaan moda tersebut untuk proteksi, pemetaan, fotografi, dan supervisi di bidang industri, pertanian dan lain-lain.
Pasalnya, pada 1999, China telah menerbitkan buku referensi pertama tentang klasifikasi profesi yang mencakup 1.838 lapangan kerja. Selama periode 2004-2009, China telah merilis 120 profesi baru di 12 bidang.
Pada 2010, China mulai merevisi buku referensi tersebut dengan menambah beberapa profesi baru dan edisi terakhir terbit pada 2015.
Dalam empat tahun terakhir setelah beberapa industri baru berhasil menciptakan lapangan kerja baru, China kembali memperbarui daftar profesi tersebut.
MHRSS secara reguler merilis daftar profesi baru yang dapat membantu meningkatkan lapangan kerja, mereformasi lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan, serta membantu pengambilan kebijakan bursa kerja.

Sumber: Akurat.co