Tampilkan postingan dengan label Drone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drone. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juni 2019

Amazon Siap Kembangkan Teknologi Drone Untuk Jasa Pengawasan

Teknologi sejatinya dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia, selain dinilai lebih ekonomis dalam pembiayaan, teknologi juga biasa dikenal lebih efektif dalam masalah waktu.
Amazon adalah salah satu perusahaan perdagangan elektronik multinasional yang berada di Seattle, Amerika Serikat. Amazon dikabarkan sedang mengeksplorasi penggunaan teknologi pesawat nirawak untuk jasa pengawasan. Sebelumnya, perusahaan tersebut berupaya memanfaatkan teknologi tersebut untuk pengiriman paketnya ke konsumen.
Melansir Reuters, Minggu (23/6), jasa pengawasan Amazon dengan drone tersebut terungkap dari paten yang diberikan oleh kantor merek dagang Amerika Serikat.
Paten tersebut menjelaskan pesawat nirawak pengiriman Amazon dapat digunakan untuk merekam video terhadap properti atas izin pemiliknya.
Nantiya data yang didapat akan dikumpulkan dan dianalisis untuk memberi pengawasan jika ada jendela yang rusak, kebakaran atau garasi yang lupa ditutup.
Kendati demikian, fungsi pengawasan dari tersebut dapat dibatasi melalui Geo-Fencing, sebuah teknologi yang digunakan untuk memberikan batas virtual dari tampilan di sekitar properti yang diawasi.
Gambar atau data apapun yang terekam drone diluar batas virtual Geo-Fence akan diburamkan atau dihapus.
Adapun paten untuk drone tersebut telah diajukan rakasa e-commerce itu sejak pada 2015 dan telah diberikan pada 4 Juni 2019.
Pihaknya mengatakan pengiriman paket dengan pesawat nirawak akan dimulai dalam beberapa bulan mendatang. Dengan memanfaatkan drone, Amazon mengklaim pengiriman paket ke pelanggan hanya akan memakan waktu sekitar 30 menit.

Sumber: Akurat.co

Selasa, 21 Mei 2019

Semakin Memanas, Amerika Serikat Waspadai Drone Buatan Cina Sebagai Alat Mata-mata

Hubungan Cina dan Amerika Serikat (AS) memang sedang sangat panas-panasnya, sebelumnya perang dagang antar kedua negara ini memang menjadi perbincangan hangat oleh media-media global, termasuk media di Indonesia.
Berita hangat muncul setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengeluarkan peringatan waspada akan adanya aksi mata-mata (spionase) yang berasal dari drone produksi perusahaan Cina. Pemberitahuan itu dikeluarkan pada hari Senin (20/5) oleh Badan Keamanan Cybersecurity dan Infrastruktur AS.
Para pebisnis AS dan organisasi lain yang menggunakannya diminta waspada.
"Pemerintah Amerika Serikat memiliki keprihatinan kuat tentang setiap produk teknologi yang membawa data Amerika ke dalam wilayah negara otoriter yang memungkinkan dinas intelijennya memiliki akses tanpa batas ke data itu atau menyalahgunakan akses itu," demikian bunyi peringatan dilansir dari BBC, Selasa (21/5).
"Cina mengenakan kewajiban yang sangat ketat pada warganya untuk mendukung kegiatan intelijen nasional," lanjutnya.
Sementara itu, produsen drone terbesar di dunia asal Cina, DJI menegaskan telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga keamanan data kliennya.
"Kami memberi pelanggan kendali penuh dan lengkap atas bagaimana data mereka dikumpulkan, disimpan dan dikirim," kata perusahaan.
DJI menyatakan menyediakan drone yang tidak mentransfer data ke perusahaan atau melalui internet untuk pelanggan yang membutuhkan jaminan tambahan.
"Pelanggan kami dapat memungkinkan semua tindakan pencegahan yang direkomendasikan oleh DHS (Departemen Keamanan Dalam Negeri AS)," ujar DJI dalam sebuah pernyataan.
Untuk diketahui, DJI menyumbang lebih dari 70 persen drone di pasar AS menurut perusahaan riset Skylogic. Sebelumnya, pada bulan Agustus 2017 lalu Angkatan Darat AS sempat melarang pasukan menggunakan drone DJI karena masalah keamanan cyber yang tidak ditentukan.
Pada bulan yang sama, badan Imigrasi dan Bea Cukai AS menuduh DJI telah memberikan infrastruktur penting AS dan data penegakan hukum kepada pemerintah Cina.
Peringatan waspada terbaru ini datang beberapa hari setelah Presiden Donald Trump memberlakukan larangan administrasi pada perusahaan penyedia perangkat lunak dan chip asal AS terhadap Huawei atas tuduhan yang sama. Hal itu menimbulkan spekulasi bahwa DJI dan pembuat drone Cina lainnya bisa jadi akan menghadapi larangan resmi.


Sumber: Akurat.co

Kamis, 02 Mei 2019

Untuk Pertama Kalinya Di Indonesia, Drone Digunakan Untuk Pemetaan Kota Pasca Bencana

Drone memang sedang naik daun saat ini, beragam usia kini tertarik untuk memainkannya, ternyata drone bukan hanya untuk bermain saja, tetapi juga bisa dijadikan alat untuk pemetaan kota pasca bencana.
Untuk pertama kalinya, teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) digunakan untuk membuat peta dalam upaya pemulihan pasca bencana di Indonesia. Terra Drone Indonesia, bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), menggunakan teknologi LiDAR dan fotogrametri yang dipasang di drone untuk membuat peta resolusi tinggi pada wilayah terdampak bencana.
Salah satu lokasi pasca bencana yang telah dipetakan adalah kota Palu, Sulawesi Tengah. Pada   28 September kota Palu dilanda gempa bumi berkekuatan 7,5 skala Richter  dan memicu tsunami setinggi 3 meter yang menghanyutkan rumah-rumah di kota tersebut. Bencana ini membutuhkan proses pemulihan yang panjang dan sulit.
Gempa bumi dan tsunami menyebabkan perubahan pada area permukaan yang berarti ada daerah yang tidak lagi cocok untuk perumahan. Untuk wilayah lainnya, kepemilikan atas tanah perlu ditetapkan sebelum pembangunan perumahan baru dapat dimulai. Fasilitas dasar seperti air, listrik, dan saluran pembuangan juga perlu dipulihkan.
Tetapi pelaksanaan survei lapangan ini sulit dan berisiko karena banyak daerah yang sulit diakses serta rawan dengan kemungkinan terjadinya gempa susulan. Oleh karena itu, survei menggunakan drone adalah solusi yang paling memungkinkan untuk mengumpulkan data dan gambar beresolusi tinggi dalam waktu sesingkat mungkin.
Pada bulan Maret 2019, Terra Drone Indonesia melakukan survei sekitar 750 hektar lahan dengan drone yang dilengkapi LiDAR, sementara 300 hektar lainnya disurvei menggunakan teknik fotogrametri. Data dan citra yang dikumpulkan dari survei ini telah digunakan untuk menghasilkan peta yang detail dengan menunjukkan kondisi lahan saat ini dan mengidentifikasi wilayah tertentu yang mengalami kerusakan paling parah. Dengan menggunakan peta ini, pemerintah dapat merencanakan pembangunan kembali rumah dan infrastruktur dengan cara yang aman dan tepat.
Sampel hasil pemetaan LiDAR dalam bentuk point cloud, elevation model, dan kontur.
“Teknologi LiDAR yang dimiliki oleh Terra Drone Indonesia dapat menembus vegetasi yang lebat, mendeteksi perubahan dalam permukaan suatu wilayah, dan menghasilkan model permukaan 3D yang detail dan akurat - dengan biaya yang 2-3 kali lebih murah daripada teknologi serupa lainnya," kata Michael Wishnu Wardana Siagian, Managing Director Terra DroneIndonesia dalam pernyataan resminya, Kamis (2/5).
Selain survei dan pemetaan pasca bencana, drone juga dapat digunakan secara efektif untuk manajemen dan mitigasi risiko bencana dengan mengumpulkan informasi permukaan pra-bencana dan menangkap gambar secara real-time selama bencana untuk memandu lembaga bantuan dan membantu pemerintah dalam pengambilan keputusan.

Sumber: Akurat.co

Rabu, 03 April 2019

Rusia Ciptakan Drone Yang Dilengkapi Dengan Shotgun

Rusia memang dikenal dengan persenjataannya yang lengkap dan teknologi-teknologi yang mendukung setiap tentaranya.
Termasuk juga pada Drone canggih asal Rusia ini. Drone kini, tidak hanya digunakan untuk menangkap gambar, tapi juga dapat disematkan senjata api.
Melansir Engadget, drone yang dilengkapi senjata api atau shotgun ini berasal dari Almaz Antey, kontraktor pertahanan Rusia. 
Drone ini mampu terbang seperti pesawat untuk efisiensi yang lebih besar, memberikan jarak 40 menit sambil mengemas senapan Vepr-12 yang sepenuhnya otomatis dengan 10-round magazine.
Drone itu dibangun oleh "Student Design Bureau of Aviation Modeling" di Moscow Aviation Institute for Almaz Antey. 
Operator menggunakan tautan video langsung untuk menerbangkan drone dan mengarahkan senjata, yang terselip di hidung pesawat.

Sumber: Akurat.co