Tampilkan postingan dengan label Siber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siber. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2019

Terkait Keamanan Digital, Indonesia Harus Segera Sahkan RUU Tentang Keamanan Dan Ketahanan Siber

Serangan-serangan siber memang menjadi momok di era teknologi seperti ini, pasalnya tak sedikit dari kita yang menyimpan dokumen-dokumen penting di internet.
Terkait serangan siber di internet, ternyata rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Keamanan dan ketahanan siber belum juga disahkan di Indonesia, banyak yang menyarankan untuk segera disahkan di Indonesia terkait RUU tersebut.  Hal tersebut dilakukan agar Indonesia memiliki Keamanan dan kedaulatan terhadap sebuah informasi dan data.
Segala data digital yang bersifat penting yang dimiliki pemerintah harus memiliki sistem pertahanan yang kokoh agar tidak mudah diretas oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain permasalahan Keamanan siber, Indonesia juga harus menyoroti masalah perlindungan data pribadi karena hal tersebut berkaitan dengan ekosistem ekonomi digital kedepannya.
Dikhawatirkan jika sebuah negara belum memiliki peraturan mengenai perlindungan data pribadi, yakni selain mudah diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, juga akan kesulitan untuk mengikuti peraturan tingkat regional.
Indonesia sendiri baru akan membahas peraturan Keamanan dan kebijakan perlindungan data siber pada tahun ini karena sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) serta berharap untuk segera disahkan tahun ini juga.

Sumber: Akurat.co

Selasa, 18 Juni 2019

Dibanding Negara Lain di Asia Pasifik Lainnya, Keamanan Perusahaan Siber Indonesia Masih "Bobrok"

Pentingnya keamanan pada sebuah website memang harus selalu diperhatikan, pasalnya jika keamanan pada sebuah website itu lemah, otomatis akan adanya serangan siber yang akan berakibat fatal pada website itu sendiri.
Perusahaan asal indonesia dinilai belum memiliki kesiapan dan kematangan dalam hal keamanan siber dibanding perusahaan luar negeri maupun negara lain di wilayah Asia Pasifik.
"Perusahaan yang benar-benar asal Indonesia dengan perusahaan yang dari luar negeri atau APAC Itu jomplang sih," ujar President Director Dimension Data Indonesia Hendra Lesmana, dalam acara pemaparan laporan tahunan Global Threat Intelligence Report, Selasa, (18/6/2019), di Jakarta Selatan.
Ia mengungkapkan kliennya yang merupakan perusahaan asing dan memiliki regional di Indonesia sudah lebih konsen dan disiplin dalam menjaga dan meningkatkan keamanan sibernya.
"Klien kita mulai dari CIMB, UOB, DBS Citibank, dan HSBC, dibandingkan dengan Bank lokal yang juga client Dimension Data, itu jomplang," kata Hendra.
Hal tersebut tidak terlepas dari minimnya sumber daya manusia serta kesigapan perusahaan lokal dalam menangani serangan yang masuk.
Herman mengklaim perusahaan asing yang kebobolan atau gagal memitigasi serangan siber karena Zero Day Attack. Dimana semua orang tidak mengetahui bahwa ada serangan yang masuk secara tiba-tiba.
"Nah, kalau untuk yang lokal kalau saya bandingkan masih belum kesitu, tapi sedang berusaha untuk kesitu," ungkapnya.
Terkait keamanan siber, Hendra menyebut berbagai negara di dunia seperti wilayah Eropa sudah lebih serius dalam menanggulangi permasalahan tersebut.
Seperti memberlakukan General Data Protection Regulation (GDPR) sejak tahun lalu, yang di dalamnya memuat aturan khusus bagi perusahaan untuk memikiran keamanan siber.


Sumber: Akurat.co

Kamis, 04 April 2019

Korsel Salip Tiongkok Dan Amerika Serikat Soal Jaringan 5G

Berita soal jaringan 5G nampaknya akan terus berlanjut sampai 5G-nya itu sendiri resmi di release, setelah menjadi perbincangan hangat dan menimbulkan pergesekan antara Tiongkok dan "Negeri Paman Sam", kali ini berita mengenai 5G muncul dari Korea Selatan.
Korea Selatan akan menjadi negara pertama yang meluncurkan layanan internet generasi kelima (5G) secara komersial. Bersamaan dengan peluncuran smartphone Samsung S10 versi 5G pada 5 April besok, jaringan 5G di negeri gingseng itu pun siap tersedia secara merata.
Sebagai salah satu negara dengan tingkat penetrasi smartphone teratas dunia, Korea Selatan berpacu dengan Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang untuk memasarkan 5G. Teknologi ini diharapkan akan memacu terobosan di bidang-bidang seperti kota pintar dan mobil otonom sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Sangat berarti bahwa perusahaan-perusahaan telekomunikasi Korea Selatan menyediakan layanan dan jaringan yang memenuhi standar tinggi pelanggan Korea Selatan dalam kecepatan dan kualitas gambar," kata Ryu Young-sang, wakil presiden eksekutif SK Telecom, dikutip dari Times Now, Kamis (4/4).
Ryu juga menambahkan bahwa 5G akan mengubah lanskap industri gim. Hal itu karena 5G bisa meminimalisir delay saat  gim dijalankan pada perangkat smartphone.
Teknologi ini pun dapat menawarkan kecepatan data 20 kali lebih cepat daripada jaringan 4G jangka panjang (LTE) dan dukungan yang lebih baik untuk kecerdasan buatan dan realitas virtual dengan latensi rendah. Bahkan untuk kondisi tertentu dapat kecepatannya bisa mencapai 100 kali lebih cepat.
Sementara itu 5G yg diisukan memiliki kerentanan terhadap keamanan siber yang lebih besar telah membuat cukup khawatir negara-negara di dunia. Meski begitu, perusahaan telekomunikasi Korea Selatan sepertinya tak mau ambil pusing perihal itu.
"Saya kira kita tidak memiliki masalah keamanan di Korea Selatan," kata Park Jin-hyo, kepala pusat penelitian teknologi informasi dan komunikasi SK Telecom.
Park Jin-hyo juga menambahkan bahwa perusahaan menggunakan teknologi canggih untuk memblokir penyadapan atau peretasan terhadap jaringan 5G.


Sumber: Akurat.co

Kamis, 28 Maret 2019

Setiap Hari, Blibli Akui Adanya Serangan Pada Platform Mereka

Dunia Internet dan Teknologi tak luput juga dari aksi kriminal yang biasa disebut hacking / cracking.
Permasalahan ini juga dialami pada sektor e-commerce yang dinilai semakin kompleks karena ancaman siber mengintai platform mereka. Blibli pun akui mengalami serangan dari peretas setiap hari.
Hal tersebut diungkapkan Senior Growth Marketing Manager Blibli, Tabah Yudhananto, Rabu (27/3) menanggapi insiden yang menimpa Bukalapak beberapa waktu lalu.
"Kalau serangan siber itu setiap hari ada aja yang masuk, misalnya hacker coba-coba serangan," ujarnya kepada wartawan usai mengahdiri acara Frontiers of Digital Growth Summit: How New Messaging Channel Are Shaking Up Customer Experiences, Rabu (27/3), di Kuningan, Jakarta Selatan.
Pria yang akrab disapa Anto tersebut mengatakan, pihaknya telah memiliki tim khusus yang menjaga sistem keamanannya.
Tim tersebut, kata Anto, berperan membuat perlindungan sistem, guna memastikan tidak ada data atau informasi penting dicuri oleh peretas.
"Tentu saja di kita juga ada tim internal khusus untuk mengawasi data. Jadi jangan sampai ada kebocoran data ataupun data ini dipakai oleh pihak lain," ungkap Anto.
Menurutnya, serangan siber yang terjadi di sektor e-commerce beberapa waktu lalu dinilai tidak berdampak pada traffic penggunjung platform jual beli online.
"Kalau ke traffic tidak ya, tapi ini sebenarnya jadi tanggung jawab semua e-commerce untuk melindungi privasi data," jelas Tabah.


Sumber: Akurat.co