Tampilkan postingan dengan label Instagram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Instagram. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2019

Facebook dan Instagram Jadi Aplikasi Media Sosial Yang Sering Error

Tak bisa dipungkiri kalau Error dan website diinternet ataupun aplikasinya memang tidak bisa dipisahkan, Error pada media sosial juga kerap kita rasakan belakangan ini.
Seperti media sosial Facebook dan Instagram yang acap kali mengalami Error. Tercatat, hingga Juli 2019, sudah lebih dari 2 kali kedua media sosial tersebut mengalami Error.
Melansir Business Insider, Senin (15/7), menurut situs layanan online, down detector, Facebook dan Instagram sering mengalami Error ketimbang tahun lalu.
Layanan online tersebut juga mencatat, pada 6 bulan pertama tahun 2019, waktu Error Instagram naik sebanyak sebesar 90%, lebih tinggi dari tahun lalu. Sementara facebook, tercatat mengalami 281% waktu Error, lebih parah ketimbang Instagram.
Downdedector tidak mencatat seberapa banyak total waktu tumbang kedua media sosial tersebut. Namun Downdedectormemiliki data dari Business Insider yang menyatakan Facebook dan Instagram aplikasi yang sering Error, ketimbang media sosial lainnya seperti Snapchat dan Twitter.

Sumber: Akurat.co

Selasa, 02 Juli 2019

Belanja Online Melalui Media Sosial Dinilai Berbahaya Oleh Kominfo

Tak bisa dipungkiri, media sosial memang sering juga digunakan untuk berjualan online oleh beberapa orang yang melihat peluang bisnis disektor tersebut,
Namun berjualan secara online dinilai kurang aman bagi konsumen karena tidak adanya jaminan keamanan.
Ditjen Aptika Kementerian Komunifo Semuel Abrijani Pangerepan menjelaskan jejaring sosial bukanlah tempat untuk melakukan transaksi jual beli. Pasalnya platform yang digunakan tidak bisa menjamin keamanan ketika melakukan transaksi.
"Media sosial bukan tempat untuk berdagang. Bagaimana kita bisa mendapat jaminan dari transaksi itu? Itu bahaya. Sekarang kalo ada kejadian lapor ke mana," kata Semuel kepada wartawan, Senin (1/7/2019), di Jakarta.
Semuel menerangkan jejaring sosial akan lebih tepat digunakan sebagai layanan komunikasi agar bisa terhubung dengan pengguna lainnya.
"Medsos itu untuk jejaring sebenarnya. WhatsApp itu untuk komunikasi private, kalau mau ngomong sama dunia pakai Twitter," tegasnya.
Kendati banyak yang pelaku usaha yang menjual barangnya melalui jejaring sosial, Semuel menyarankan agar masyarakat untuk lebih memilih marketplace atau e-commerce ketika melakukan aktivitas belanja online.
Menurutnya, jika terjadi masalah ketika transaksi konsumen bisa mengetahui di mana mereka harus melapor.
"Kalau media sosial, belum tentu penjualnya aja pake nama asli,” paparnya.

Sumber: Akurat.co

Pendiri Wikipedia, Larry Sanger Serukan Aksi Mogok Gunakan Media Sosial

Mungkin sebagian orang asing dengan nama Larry Sanger, yap ia adalah salah satu dari pendiri Wikipedia.
Salah satu pendiri ensiklopedi online Wikipedia, Larry Sanger menyerukan aksi mogok dalam menggunakan media sosial (medsos). Hal itu sebagai upaya menekan para pengelola medsos agar mengembalikan kewenangan atas kontrol data pribadi kepada pengguna.
Larry mengimbau para pengguna untuk berhenti menggunakan medsos dalam 48 jam dari tanggal 4 - 5 Juli. Seruan mogok telah banyak beredar di Reddit, Twitter dan beberapa jaringan lainnya.
Larry juga telah meminta para pendukung untuk menyebarkan berita di Facebook. Ia menilai semakin banyak yang bergabung dalam aksi mogok, akan menunjukkan adanya keluhan serius pada medsos dan bahwa pengguna tidak puas dengan situasi saat ini.
"Kami akan melenturkan otot kolektif kami dan menuntut perusahaan raksasa yang manipulatif memberi kami kendali kembali atas data, privasi dan pengalaman pengguna," ujar Larry dilansir dari BBC, Senin (1/7/2019).
Mereka yang mogok juga diminta untuk menandatangani 'Deklarasi Kemerdekaan Digital' yang dirancangnya. Deklarasi tersebut menyerukan agar medsos didesentralisasi dan diubah menjadi sistem yang menghargai hak kebebasan berbicara, privasi, dan keamanan.
Larry berharap aksi mogok medsos dapat mendorong perubahan terkait kewenangan kontrol data pribadi pengguna, sehingga akan memberi orang lebih banyak kontrol atas data mereka. Dia juga berharap pengelola medsos dapat lebih terbuka.
"Begitulah seharusnya media sosial dikembangkan sejak awal, dan bukannya ditutup di jaringan yang terpisah dan bersaing," tandas Larry.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 09 Juni 2019

Instagram Menjadi Sosial Media Terburuk Untuk Kesehatan Mental Penggunanya. Yang Kedua Snapchat!

Mempunyai akun Instagram bagi sebagian orang memang sudah menjadi suatu keharusan, terlebih lagi untuk para "sosialita" yang gemar memposting foto-foto baru yang menunjukkan "kehidupan mewah"-nya di dunia maya.
Tapi taukah bahwa Instagram itu mempunyi dampak yang sangat buruk untuk kesehatan mental?
Menurut sebuah laporan baru-baru ini oleh Royal Society for Public Health di Inggris, Instagram menjadi saluran media sosial terburuk untuk kesehatan mental. Setelah itu, disusul Snapchat yang berada di urutan kedua.
Untuk melakukan penelitian, para peneliti mengevaluasi 1.179 orang yang tinggal di Inggris, antara usia 14 hingga 24 tahun. Mereka ditanya bagaimana Facebook, Instagram, YouTube, Twitter dan Snapchat memberi dampak pada diri mereka sendiri.
Hasilnya, platform media sosial juga dinilai berdasarkan dampaknya pada kualitas tidur, kecemasan, depresi, takut ketinggalan (FOMO), kesepian, intimidasi, dan masalah citra tubuh. Laporan ini sebagian besar mencerminkan apa yang dirasakan para peserta setelah melalui umpan foto di semua platform dan dilakukan untuk memahami dampaknya terhadap kesehatan mental seseorang.
Mengapa Instagram adalah yang terburuk?
Dari 5 situs jejaring sosial ini, platform berbagi foto ini ditemukan untuk membuat para pengguna merasakan yang terburuk. Instagram ternyata membuat orang merasa tidak aman, terutama wanita dan anak perempuan.
Alasan utama di balik hal yang sama ialah sejumlah filter yang digunakan orang untuk tampil benar-benar 'sempurna'.
Gambar-gambar secara terang-terangan diedit, 'candid' dan 'menjadi sempurna. Ini tentu dapat menanamkan perasaan perbandingan dan keputusasaan yang kuat, membuat wanita merasa seperti mereka tidak melakukan yang cukup dalam hidup mereka.
Bagian yang menyedihkan adalah bahwa orang benar-benar membandingkan diri mereka dengan versi foto, yang dipilih dengan hati-hati, setelah banyak kali mengambil gambar dan kesalahan.
Instagram sebenarnya telah melahirkan praktik menerapkan lapisan filter dan mengedit foto dengan hati-hati sebelum membuatnya online untuk dilihat dunia. Selain itu, menyaksikan versi kesempurnaan orang lain yang salah dapat menyebabkan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dan bahkan secara drastis memengaruhi suasana hati seseorang.


Sumber: Akurat.co

Senin, 20 Mei 2019

Chtrbox Ungkap Ada Jutaan Data Pribadi Terekspos Di Instagram Termasuk Selebritis

Mempunyai Instagram pada saat ini memang sudah menjadi keharusan tersendiri, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, mulai dari sosialita sampai selebritis mempunyai akun di Instagram, Tapi apa jadinya jika data pribadi di Instagram bocor dan terekspos oleh publik?
Hasil penelusuran dari Chtrbox, sebuah perusahaan pemasaran media sosial yang berbasis di India menemukan ada jutaan data pribadi yang di antaranya milik selebritis dan influencer telah terekspos di Instagram.
Mengutip laporan dari TechCrunch, Selasa (21/5), sebanyak 49 juta basis data termasuk beberapa influencer dengan profil terverifikasi, blogger makanan terkemuka, hingga selebritis telah bocor secara online.
Menurut laporan tersebut, bio, gambar profil, jumlah pengikut yang mereka miliki, lokasi dan informasi kontak pribadi menjadi data-data yang bocor dan terekspos di Instagram. Namun, tidak disebutkan siapa saja selebritis dan influenceryang datanya bocor di Instagram.
Facebook, sebagai perusahaan yang menaungi platform Instagram mengatakan saat ini pihaknya sedang menyelidiki laporan bocornya data-data yang melibatkan para selebritis dan influencer berpengaruh.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 28 April 2019

Selama Pemilu 2019, Ada 1.645 Konten Hoaks Yang Telah Dicata Kominfo

Pasca Pemilu kemarin, memang sangat banyak sekali hoaks-hoaks bertaburan di berbagai macam jejaring sosial.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menilai penyebaran informasi hoaks selama Pemilu Serentak 2019 meningkat tajam. Kominfo bahkan mencatat telah terdapat 1.645 konten hoaks sejak Agustus 2018 hingga 25 April 2019.
“Hoaks yang kami identifikasi, kami klasifikasi dan validasi menangkal 1.645 hoaks dari bulan Agustus tahun lalu,” kata Menteri  Kominfo Rudiantara dikutip dari keterangan resminya, Jum’at (26/4).
Menteri Rudiantara memaparkan, jumlah hoaks setiap bulannya, khususnya yang berkaitan seputar pemilu 2019, mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Pada bulan Agustus 2018, Kementerian Kominfo mengidentifikasi 25 hoaks, sementara di bulan Desember meningkat tiga kali lipat menjadi 75 hoaks, bulan Januari 2019 naik 175, Febuari 353, serta bulan Maret ditemukan 453, dan per tanggal 25 April 2019, ditemukan hoaks sebanyak 421. 
“Kalau hoaks bertambah banyak, berarti kan kita ini betul-betul hidup di era yang kurang etis, kurang beradab (hanya karena hoaks),” cetusnya. 
Sepanjang masa kampanye Capres-Cawapres sejak Agustus 2018, Kominfo juga telah mengais konten hoaks yang ditujukan kepada Calon Presiden (Capres) Joko Widodo maupun Prabowo Subianto. 
Pria yang akrab disapa Chief RA juga menjelaskan hoaks tentang kedua Capres, terhitung sejak masa kampanye awal di bulan Agustus 2018 sampai April 2019 ditemukan berjumlah 341 konten.
"Terakhir bulan April meningkat, padahal udah lewat capresnya itu (hari pencoblosan), tapi hoaks masih saja terjadi lebih kepada capresnya," katanya.
Menurut Menteri Rudiantara, motif hoaks yang dilakukan kepada kedua capres berbeda-beda. Bahkan, momentumnya lebih dikaitkan dengan jiwa kepemimpinan.  Sementara hoaks yang ditujukan kepada cawapres KH. Ma'ruf Amin maupun Sandiaga Uno, nyaris nihil. 
"Ya pokoknya dibikin hoaks lah, dibikin seolah-olah jelek bahwa tidak layak dipilih lah kurang lebih kayak begitu," ujarnya.
Jelang waktu penghitungan suara dan pengumuman secara resmi dari KPU, pada tanggal 22 Mei nanti, Menteri Rudiantara berharap masyarakat tidak lagi menyebarkan hoaks. 
“Saya berharap sebetulnya setelah Pilpres, jumlah hoaks menurun, tapi perkiraan saya justru bulan April ini lebih tinggi. Udahlah bulan April ini terakhir kita perang hoaks, kepada semua, siapapun. Karena gak bagus,” ucapnya usah menghadiri pameran foto Kilas Balik 2018 di Jakarta.


Sumber: Akurat.co

Rabu, 17 April 2019

Postingan Caleg Sepi Diinternet, Banyak Pemilih Kebingungan Untuk Mencoblos

Kemarin, tepat pada tanggal 17 April 2019, warga Indonesia melakukan yang namanya pemilihan pemimpin.
Tagar dukungan kemenangan untuk Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) ramai digunakan warganet dalam platform media sosial Twitter.
Kebalikannya, postingan baik tagar atau konten dukungan untuk Calon Anggota Legislatif (Caleg) jutstru sepi dari dicuitkan warganet.
Yang ramai hanya dukungan pada Capres dan Cawapres saja, tapi untuk pemimpin daerah atau Caleg? tidak begitu ramai. bahkan banyak yang kebingungan saat akan mencoblosnya, karena begitu banyak pilihan yang ada disana tanpa ada pemberitaan dari media-media seperti pada pemberitaan Capres dan Cawapres.
Padahal pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 dilakukan secara serentak. Tak hanya memilih capres dan cawapres, tetapi juga memilih Caleg DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/kota.
Banyak warganet menulis bahwa mereka tidak familiar dengan caleg pada pesta demokrasi kali ini. Bahkan beberapa mengklaim lebih mengenal publik figur di ranah hiburan dibanding para Caleg.
Antri>dipanggil>dikasih surat suara>masuk bilik

Waktu buka ss presiden "ah tinggal coblos"
Waktu buka ss dpr ri, dprd kota, dprd provinsi, dpd ri "anjing dah ini semuanya siapa, kagak ada yg tau. Ini sering nongol di tv tp gk suka"

Yg lama dari nyoblos cuma baca nama caleg😂😂
See Ahmad Farid's other Tweets
Ada juga warganet yang mengungkapkan 'asal coblos' pada kertas suara caleg karena hanya memahami pasangan capres dan cawapres.
Apa cuma aku, yang saking bingung nya milih caleg DPR tadi milih yang mukanya lucu ,ganteng atau cantik gitu ?:") drpd golput kan.
See kucing melingkar's other Tweets
Cerita nyoblos hari ini:
Selain presiden, calon yg lain* tdk ada yg sy kenali jadinya ya asal coblos aja yg penting surat suara tdk kosong dan tercoblos semua 😂😂
See Awalu Fitria's other Tweets
Saat ini, tagar yang merujuk pada pasangan capres cawapres nomor urut 01 yakni #JokoWinElection dan pasangan nomor urut 02 dengan #TheVictoryofPrabowo masih menjadi topik terpopuler di Twitter.


Sumber: Akurat.co

Minggu, 14 April 2019

Kemarin, Whatsapp Facebook Dan Instagram Down Secara Bersamaan (Lagi)

Siapa yang kemarin mengalami gangguan pada aplikasi Whatsapp, Facebook, Instagram? yap, tampaknya hampir semua penggunanya mengalami gangguan pada akses akunnya masing-masing.
Pada hari minggu (14/4) kemarin, semua pengguna Whatsapp, Facebook, Instagram mengalami kesulitan untuk mengakses akun di aplikasi tersebut. Laman Downdetector mengindikasi ada lebih dari 12 ribu orang melaporkan gangguan ini pada Facebook. Namun, kini sudah menurun hingga sekitar 2 ribu laporan.
Kejadian ini bukanlah kali pertama dialami Facebook. Pada bulan Maret lalu, warganet di seluruh dunia kesulitan mengakses Facebook, Instagram, Dan WhatsApp selama beberapa jam.
Laman pengawas itu juga menunjukkan ada lebih dari 3 ribu orang melaporkan gangguan pada WhatsApp dan 7 ribu pada Instagram. Gangguan ini sebagian besar melanda Eropa dan Asia.
Warganet pun ramai-ramai beralih ke Twitter mengeluhkan masalah ini. Mereka mengunggah candaan dan komentar lewat tagar 'facebookdown', 'whatsappdown', dan 'instagramdown'.
Hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak Facebook mengenai masalah ini.

Sumber: Akurat.co