Tampilkan postingan dengan label Whatsapp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Whatsapp. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2019

Sidekick, Aplikasi Yang Akan Menghubungkan Anda Ke Penduduk Setempat Yang Berbahasa Inggris

Travelling keluar negeri memang menjadi impian setiap orang. Namun, akan menjadi sangat merepotkan jika negara yang akan anda kunjungi warganya tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Tentu lebih banyak waktu dihabiskan untuk mencari tahu bagaimana mencapai tujuan Anda atau mencoba membuat orang lokal memahami Anda.
Tetapi jangan khawatir karena aplikasi Sidekick adalah layanan baru yang akan menghubungkan Anda ke penduduk setempat yang berbahasa Inggris selama perjalanan Anda.
Dibuat oleh Scott Barrow dan Jungwon Yan, aplikasi  ini akan memungkinkan Anda untuk bertanya apa pun kepada penduduk setempat dari arah ke restoran, kebutuhan terjemahan, dan bahkan saran rencana perjalanan.
Jelas, ada sedikit biaya yang harus dibayar pengguna. Satu hari berlalu akan dikenakan biaya 20 dolar AS dan naik secara bertahap selama 3 hari dan 5 hari berlalu.
Setelah Anda melakukan pembayaran, perusahaan akan mengirimi Anda email yang menanyakan lebih banyak tentang perjalanan dan rencana Anda. Dari sana, itu akan menghubungkan Anda ke pemandu lokal yang bisa berbahasa Inggris.
Saat ini, layanan ini mendukung sebagian besar aplikasi chatting terkenal seperti Facebook Messenger, WhatsApp, WeChat, dan LINE.
Wisatawan dapat menghabiskan lebih banyak waktu mencari hal-hal di ponsel mereka daripada menikmati perjalanan waktu mereka, dan masih kehilangan pengalaman paling otentik, lokal dan personal.
"Di sinilah Sidekick masuk. Kami melakukan pencarian tanpa akhir dan ketidakpastian dari hari seorang musafir dengan bantuan khusus dan rekomendasi secara real-time. Anggap kami sebagai penjaga pintu di saku Anda," jelas Barrow seperti mengutip Mashable. 
Saat ini, layanan ini hanya tersedia di Korea, tetapi keduanya berencana untuk membawanya ke Jepang dan negara-negara lain segera setelah itu.


Sumber: Akurat.co

Rabu, 26 Juni 2019

Mulai 1 Februari 2020, WhatsApp Tak Akan Dukung Perangkat Dengan OS Android 2.3.7 dan IOS 7


Seiring berjalanannya waktu, komunikasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, salah satu aplikasi komunikasi yang kita gunakan saat ini adalah aplikasi WhatsApp.

Tapi tahukah kalian kalau layanan perpesanan WhatsApp mengumumkan bahwa platformnya tidak akan lagi mendukung perangkat dengan sistem operasi Android 2.3.7 dan IOS 7. Penghentian dukungan ini mulai berlaku pada 1 Februari 2020 mendatang.

Pengguna yang masih menggunakan perangkat dengan sistem operasi tersebut tidak bisa lagi membuat akun baru dan memverifikasi kembali akun yang ada setelah batas waktu.
Salah satu platform milik Facebook itu menjamin bahwa perubahan tersebut memiliki dampak terbatas. Pasalnya, hanya pengguna dengan perangkat lama atau sistem operasi berusia lebih dari enam tahun yang akan terpengaruh.
Selain itu, pengguna Android dan iOS sudah dipastikan paling terdampak. Sedangkan pengguna dengan sistem operasi Windows, memiliki efek yang lebih kecil karena penggunanya hanya sekitar 0,24 persen di seluruh dunia.
"Anda tidak lagi dapat menggunakan semua ponsel sistem operasi Windows setelah 31 Desember 2019. WhatsApp mungkin tidak tersedia di Microsoft Store setelah 1 Juli 2019," kata WhatsApp, dikutip dari Times Now, Rabu (26/6).
Angka 0,24 persen mencakup semua versi sistem operasi Windows, termasuk ponsel Windows 10 yang lebih baru, sehingga jumlah pengguna ponsel Windows saat ini tidak signifikan.
Bagi pengguna Android, WhatsApp menyarankan untuk memperbarui perangkat ke Android versi 4.0.3 atau yang lebih baru. Sementara pengguna iOS, disarankan beralih ke iOS 8 atau lebih baru.


Sumber: Akurat.co

Selasa, 18 Juni 2019

Kominfo Ungkap Patroli Polisi di WhatsApp Tak Sembarangan Masuk Ruang Percakapan

Adanya wacana polisi untuk berpatroli digrup WhatsApp, nampaknya menarik perhatian dari Kementrian Komunikasi dan Informatika. Selain itu, Kominfo juga mendukung langkah Polisi untuk mensegerakan wacana tersebut.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengungkapkan istilah patroli dalam pengawasan WhatsApp bukan berarti hanya melakukan pengecekan ataupun bisa sembarang mengakses atau berkeliaran di setiap ruang percakapan.
"Itu saya baca bukan patroli kayak patroli biasa asal dicek gitu enggak. tanda kutip oleh patrolinya," kata Rudiantara dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI, Selasa (18/6/2019), di Gedung DPR MPR, Jakarta.
Dalam hal ini, kata Rudiantara, terdapat ranah publik dan privat. Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter di mana pengguna memposting suatu konten, itu adalah ranah publik. Sementara untuk percakapan antar dua pengguna dalam layanan WhatsApp, termasuk ranah privat.
"Saya berdua nih kirim-kiriman WhatsApp, nah salah satunya committed terhadap crime, dinyatakan ada urusan hukum, ada urusan pidana, dia (penyidik) bisa masuk," ungkapnya.
Untuk itu, dalam menjalankan patroli di pesan instan milik Facebook itu hanya bisa dilakukan oleh penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri maupun dari Kominfo.
Selain itu harus memiliki dasar aturan, yaitu terhadap pihak yang terlibat tindak kriminal atau mempunyai permasalahan hukum.
Kendati demikian, Rudiantara menolak untuk menjelaskan secara rinci mekanisme masuknya pihak berwenang kedalam ruang percakapan WhatsApp.
"Ya itu urusan 'dapur'nya lah," ujarnya.
Namun, ia menegaskan jika dalam percakapan terdapat anggota yang terlibat masalah hukum akan ada tindakan berdasarkan delik umum dan aduan yang diatur Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
"Ada delik umum yang tidak perlu ada yang ngadu. Pasal 27 ayat 3 UU ITE harus di delik aduan," jelas Rudiantara.

Sumber: Akurat.co

Menkominfo Dukung Adanya Wacana Polisi Patroli di Grup WA

Kabarnya akan ada patroli di antara grup aplikasi WA yang dilakukan oleh Polisi.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (MenkominfoRudiantara yang menanggapi wacana soal Kepolisian yang akan masuk ke grup aplikasi pesan singkat Whatsapp (WA) untuk berpatroli. Menurutnya, Polisi memiliki hak sesuai mandat di dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
"Ya memang saya dukung," ujar pria yang akrab disapa Chief Ra di Grand Hyatt, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (17/6/2019) malam.
Dirinya menuturkan Polisi telah menyampaikan akan masuk ke suatu grup WA (WhatsApp) apabila ada laporan atau committed to crime.
"Contohnya begini, kita ada 100 anggota WA, di dalamnya ada terkait kriminal, polisi bisa masuk? Bisa, tapi dengan syarat itu," imbuhnya.
Patroli yang dibolehkan itu salah satunya menurut Menkominfo yakni dalam menanggulangi berita bohong alias hoaks.
Terlebih, ia menyatakan hoaks ada yang bersifat kriminal bukan hanya pembunuhan maupun pencurian, dan tergantung kepada tuntutannya.
"Pokoknya yang istilahnya committed to crime, terkait atau tersangkut permasalahan kriminal," tukas Menkominfo.
Ia memastikan upaya Kepolisian itu juga tidak akan bentrok dengan tim AIS Kominfo. Dijelaskan Menkominfo, pihaknya tidak akan masuk ke grup WA yang anggotanya tidak ada yang comitted terhadap crime.
"Yang menetapkan committed terhadap crime emang siapa, emang Kominfo? bukan, Polisi. Nanti Polisi bisa minta sama Kominfo tolong cek dong yang ini," imbuhnya.
Kendati demikian, Menkominfo menegaskan langkah Polisi memang tidak bisa sembarangan.
"Nanti kalau sembarangan, masa grup WA kita tenang-tenang aja dimasukin, baca statement Polisi di situ ada "apabila" kan?" tandasnya.


Sumber: Akurat.co

Selasa, 11 Juni 2019

Masyarakat Indonesia Tak Lepas Dari Teknologi, Termasuk Pada Bulan Ramadhan Dan Lebaran

Ramadan memang sudah usai, tapi suasana Ramadan masih terasa hingga saat ini. Selama di bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri semakin banyak komunitas muslim yang mengadopsi teknologi sebagai penunjang aktivitasnya. Hal ini ditunjukan oleh hasil survei yang dilakukan Facebook untuk memahami bagaimana masyarakat merayakan momen tersebut.
Seorang juru bicara Facebook menjelaskan pihaknya menggandeng perusahaan riset Kantar untuk melakukan survei kuantitatif online di Indonesia, Turki, Amerika Serikat, Saudi Arabia, Mesir, Pakistan, Inggris, Prancis dan Nigeria.
Hasilnya menunjukan bahwa 83 persen responden setuju jika ponsel membantu mereka beribadah selama Ramadhan. Lebih lanjut 93 persen diantaranya sepakat bahwa perangkat tersebut membuat mereka tetap bisa terhubung dengan kerabat.
Di Indonesia sendiri, riset itu dilakukan pada April 2019 dengan melibat 951 responden. Survei tersebut mencatat 95 persen masyarakat Indonesia mengandalkan platform milik Facebook selama Ramadan.
“Inti dari momen Ramadhan adalah waktu untuk meningkatkan elemen spiritualitas dan banyak masyarakat Indonesia yang saling terhubung dengan teknologi," ujar juru bicara Facebook dalam keterangan tertulis yang diterima Akurat.co, Selasa (11/6/2019).
Secara rinci 85 persen responden mengatakan pesan instan WhatsApp sebagai layanan favoritnya. Sementara Instagram digunakan oleh 68 persen dan Messenger 30 persen.
Hal tersebut tidak terlepas dari pengguna yang ingin terus terhubung dengan keluarganya sehingga mereka mengakses layanan Facebook selama Ramadhan dan Lebaran.
Selain itu masyarakat juga menggunakan WhatsApp dan Messenger untuk menunjang aktivitas ibadahnya. Seperti mencari konten religi seperti doa, kutipan islami hingga khotbah dan membagikannya melalui layanan tersebut.

Sumber: Akurat.co

Senin, 27 Mei 2019

Sebanyak 2184 Akun dan Situs Diblokir Kominfo Selama Aksi 22 Mei

Saat kericuhan terjadi pada aksi 22 Mei, masyarakat Indonesia dibatasi akses media sosial dan pesan instan mereka.
Hal tersebut dikarenakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mewaspadai adanya hoaks yang memperkeruh suasana pada aksi 22 Mei tersebut.
Tak hanya membatasi akses saja, Kominfo juga memblokir 2184 akun dan situs demi meredam penyebaran konten hoaks, provokasi dan ujaran kebencian.
Secara rinci, Kominfo tercatat telah melakukan pemblokiran terhadap 551 akun jejaring sosial Facebook, dan 848 akun Twitter. Sementara untuk platform lain, Kominfo menutup 143 akun YouTube, satu akun LinkedIn dan satu url website.
Pemblokiran itu dilakukan sebelum dan sesudah pembatasan akses media sosial dan pesan instan oleh pemerintah yang dimulai Rabu (22/5/2019), hingga Sabtu (25/5/2019).
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengungkapkan pihaknya menempuh upaya kerja sama dengan penyedia platform digital, yakni WhatsApp guna menekan penyebaran konten negatif.
"Saya telah berkomunikasi dengan pimpinan WhatsApp, yang hanya dalam seminggu sebelum kerusuhan 22 Mei lalu telah menutup sekitar 61 ribu akun aplikasi WhatsApp yang melanggar aturan," ujar Rudiantara dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/5/2019).
Untuk itu, semua pihak harus sadar dan saling mengingatkan bahwa konten negatif perlu diminimalisir penyebarannya.
Sehingga bisa menghindari adanya konflik yang bisa disebabkan dari konten provokasi, hoaks dan ujaran kebencian di media sosial ataupun pesan instan.
"Jangan lelah untuk mengimbau agar masyarakat dan teman-teman di sekitar kita berhenti menyebarkan konten yang mengandung hoaks, fitnah maupun provokasi untuk melanggar hukum," ungkapnya.


Sumber: Akurat.co

Rabu, 01 Mei 2019

Pengguna WhatsApp Akan Segera Bisa Belanja Langsung dari Aplikasi

F8 adalah festival yang menampilkan terobosan-terobosan baru dibidang teknologi, banyak sekali pengembang-pengembang aplikasi yang hadir dan tampil disana.
Pada ajang konferensi pengembang tahunan F8 Facebook, Mark Zuckerberg mengumumkan sejumlah rencana baru yang akan dihadirkan ke platform-platformnya, salah satunya WhatsApp.
Dilansir dari Times Now, Kamis (2/5), pengguna WhatsApp akan bisa melakukan pembelian suatu produk langsung dari aplikasi. Kemampuan ini kabarnya akan menjadi fitur dari WhatsApp Business yang sudah diluncurkan sebelumnya.
WhatsApp Business memungkinkan perusahaan untuk memiliki profilnya sendiri di platform dengan informasi kontak mereka. Nantinya, platform ini juga akan bisa menampilkan seluruh katalog produk dari pengguna WhatsApp Business. Katalog produk akan terlihat di profil di dalam aplikasi dan pelanggan dapat menjelajahinya.
Fitur WhatsApp yang akan datang ini diharapkan dapat membantu jutaan usaha kecil yang tidak memiliki situs web atau domain bernilai tinggi untuk mendapatkan jangkauan pasar yang lebih baik.
Layanan ini kabarnya telah diuji di India dan akan diperluas ke negara lainnya. Namun, Zuckerberg belum menetapkan rincian waktu untuk peluncuran fitur ini secara global. Hadirnya fitur ini sendiri diyakini bakal jadi pemasukan baru yang menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan Facebook.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 28 April 2019

Selama Pemilu 2019, Ada 1.645 Konten Hoaks Yang Telah Dicata Kominfo

Pasca Pemilu kemarin, memang sangat banyak sekali hoaks-hoaks bertaburan di berbagai macam jejaring sosial.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menilai penyebaran informasi hoaks selama Pemilu Serentak 2019 meningkat tajam. Kominfo bahkan mencatat telah terdapat 1.645 konten hoaks sejak Agustus 2018 hingga 25 April 2019.
Hoaks yang kami identifikasi, kami klasifikasi dan validasi menangkal 1.645 hoaks dari bulan Agustus tahun lalu,” kata Menteri  Kominfo Rudiantara dikutip dari keterangan resminya, Jum’at (26/4).
Menteri Rudiantara memaparkan, jumlah hoaks setiap bulannya, khususnya yang berkaitan seputar pemilu 2019, mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Pada bulan Agustus 2018, Kementerian Kominfo mengidentifikasi 25 hoaks, sementara di bulan Desember meningkat tiga kali lipat menjadi 75 hoaks, bulan Januari 2019 naik 175, Febuari 353, serta bulan Maret ditemukan 453, dan per tanggal 25 April 2019, ditemukan hoaks sebanyak 421. 
“Kalau hoaks bertambah banyak, berarti kan kita ini betul-betul hidup di era yang kurang etis, kurang beradab (hanya karena hoaks),” cetusnya. 
Sepanjang masa kampanye Capres-Cawapres sejak Agustus 2018, Kominfo juga telah mengais konten hoaks yang ditujukan kepada Calon Presiden (Capres) Joko Widodo maupun Prabowo Subianto. 
Pria yang akrab disapa Chief RA juga menjelaskan hoaks tentang kedua Capres, terhitung sejak masa kampanye awal di bulan Agustus 2018 sampai April 2019 ditemukan berjumlah 341 konten.
"Terakhir bulan April meningkat, padahal udah lewat capresnya itu (hari pencoblosan), tapi hoaks masih saja terjadi lebih kepada capresnya," katanya.
Menurut Menteri Rudiantara, motif hoaks yang dilakukan kepada kedua capres berbeda-beda. Bahkan, momentumnya lebih dikaitkan dengan jiwa kepemimpinan.  Sementara hoaks yang ditujukan kepada cawapres KH. Ma'ruf Amin maupun Sandiaga Uno, nyaris nihil. 
"Ya pokoknya dibikin hoaks lah, dibikin seolah-olah jelek bahwa tidak layak dipilih lah kurang lebih kayak begitu," ujarnya.
Jelang waktu penghitungan suara dan pengumuman secara resmi dari KPU, pada tanggal 22 Mei nanti, Menteri Rudiantara berharap masyarakat tidak lagi menyebarkan hoaks. 
“Saya berharap sebetulnya setelah Pilpres, jumlah hoaks menurun, tapi perkiraan saya justru bulan April ini lebih tinggi. Udahlah bulan April ini terakhir kita perang hoaks, kepada semua, siapapun. Karena gak bagus,” ucapnya usah menghadiri pameran foto Kilas Balik 2018 di Jakarta.


Sumber: Akurat.co

Minggu, 14 April 2019

Kemarin, Whatsapp Facebook Dan Instagram Down Secara Bersamaan (Lagi)

Siapa yang kemarin mengalami gangguan pada aplikasi Whatsapp, Facebook, Instagram? yap, tampaknya hampir semua penggunanya mengalami gangguan pada akses akunnya masing-masing.
Pada hari minggu (14/4) kemarin, semua pengguna Whatsapp, FacebookInstagram mengalami kesulitan untuk mengakses akun di aplikasi tersebut. Laman Downdetector mengindikasi ada lebih dari 12 ribu orang melaporkan gangguan ini pada Facebook. Namun, kini sudah menurun hingga sekitar 2 ribu laporan.
Kejadian ini bukanlah kali pertama dialami Facebook. Pada bulan Maret lalu, warganet di seluruh dunia kesulitan mengakses FacebookInstagramDan WhatsApp selama beberapa jam.
Laman pengawas itu juga menunjukkan ada lebih dari 3 ribu orang melaporkan gangguan pada WhatsApp dan 7 ribu pada Instagram. Gangguan ini sebagian besar melanda Eropa dan Asia.
Warganet pun ramai-ramai beralih ke Twitter mengeluhkan masalah ini. Mereka mengunggah candaan dan komentar lewat tagar 'facebookdown', 'whatsappdown', dan 'instagramdown'.
Hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak Facebook mengenai masalah ini.

Sumber: Akurat.co

Minggu, 31 Maret 2019

Merasa Jengkel Dengan Undangan Grup Yang Ada Di Whatsapp? Begini Cara Aktifkan Fitur Tolak Undangan Grup WhatsApp

Pada saat ini, WhatsApp telah menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan sebagai media komunikasi antara organisasi atau keluarga.
Terkadang yang membuat jengkel dan tak nyaman saat menggunakan WhatsApp ialah undangan grup-grup yang tiba-tiba langsung ada didaftar aplikasi ini
Bukan hanya merasa tak nyaman dengan percakapan grup yang dirasa tidak penting atau hal lainnya, bahkan pengguna seolah dipaksa untuk bergabung ke dalam grup meski sudah meninggalkannya. Perlahan, belum lama ini masalah tersebut telah teratasi berkat fitur dari WhatsApp yang memungkinkan pengguna bisa menolak undangan grup.
Berikut ini cara dan langkah-langkah untuk mengaktifkan fitur tersebut.
1. Masuk ke Pengaturan WhatsApp, Akun, Privasi, Grup.
2. Anda akan dapat memilih siapa yang dapat menambahkan Anda ke grup WhatsApp. Opsi mencakup "Semua Orang", "Kontak Saya", dan "Tidak Ada."
3. Jika Anda memilih opsi "Tidak Ada", tidak ada yang akan dapat menambahkan Anda dalam grup WhatsApp tanpa izin Anda, bahkan admin grup sekali pun.
4. Obrolan baru akan dibuat yang akan memiliki izin untuk menambahkan Anda ke dalam grup WhatsApp dengan dua opsi, yaitu menerima atau menolak.
5. Undangan Grup WhatsApp akan berakhir dalam 72 hari.


Sumber: Akurat.co